5. Achmad Nurmandi — Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (5.032 sitasi)
Ahli kebijakan publik dan e-government yang banyak jadi rujukan pemerintah daerah dan akademisi di Asia Tenggara.
6. Yuda Turana — Universitas Katolik Atma Jaya (4.777 sitasi)
Dokter spesialis saraf yang produktif meneliti kesehatan otak dan penuaan. Risetnya banyak dikutip di jurnal medis internasional.
7. Maidin Gultom — Universitas Katolik Santo Thomas (4.138 sitasi)
Akademisi hukum yang memperjuangkan nilai-nilai keadilan dan kemanusiaan lewat riset sosial yang berdampak.
8. Haman Hadi — Universitas Alma Ata (3.913 sitasi)
Konsisten meneliti bidang gizi dan kesehatan masyarakat. Di tangannya, Alma Ata berkembang cepat sebagai kampus kesehatan unggulan.
9. I Wayan Lasmawan — Universitas Pendidikan Ganesha (2.993 sitasi)
Pakar pendidikan karakter dan pembelajaran inovatif yang fokus mencetak pendidik tangguh.
10. Tri Basuki Joewono — Universitas Katolik Parahyangan (2.957 sitasi)
Pakar transportasi berkelanjutan yang hasil risetnya sering dipakai dalam perencanaan kota di berbagai daerah.
Kampus Swasta Kini Tak Lagi di Bayang-Bayang
Deretan nama di atas membuktikan bahwa kampus swasta Indonesia semakin kompetitif dalam dunia riset global. Mereka bukan hanya pemimpin kampus, tapi juga peneliti yang membawa nama Indonesia ke kancah internasional.
Karya nyata, data kuat, dan semangat muda jadi kombinasi yang bikin dunia akademik Indonesia semakin maju.**
(Red)
