Menu

Mode Gelap
Edukasi dan Sosialisasi Literasi Keuangan serta Pembiayaan APBN MPLS Pancawaluya SMK Wiraswasta Cimahi Tahun Ajaran 2026/2027 PAKAR PBB sebagai Upaya Penguatan Karakter Siswa SMPN 7 Cimahi Pelepasan Mahasiswa Peserta Program PROBIDIK Gema Jawa Barat dan Penanggulangan MoU SMK bersama Dunia Industri Pembukaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Tahun Ajaran 2026-2027 Kota Cimahi Festival Asia Afrika 2026 Meriah, Karnaval Budaya Satukan Semangat Persahabatan Antarbangsa

Berita Daerah

Kecamatan Bandung Kulon Torehkan Capaian 62,8% Penanganan Sampah

badge-check

TPST MOTAH 21-32 Bakul Agamis, Keluarahan Gempolsari, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung Perbesar

TPST MOTAH 21-32 Bakul Agamis, Keluarahan Gempolsari, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung

SAMBAS MEDIA, BANDUNG – Sampah masih menjadi pekerjaan rumah terbesar Kota Bandung. Namun, dari wilayah barat kota, sebuah capaian spektakuler lahir. Kecamatan Bandung Kulon berhasil menangani 62,8% dari total timbulan harian, jauh di atas rata-rata kecamatan lain yang masih di bawah 50 persen.

Sorotan utama keberhasilan ini datang dari Kelurahan Gempolsari. Beberapa tahun silam, wilayah ini identik dengan “gunungan sampah” yang menumpuk di berbagai titik. Kondisi tersebut mengundang keresahan warga.

Namun kini, wajah Gempolsari berubah total. Melalui langkah berani Camat Bandung Kulon, Dadang Setiawan, S.IP., M.Si, yang menginisiasi kolaborasi antara kecamatan, kelurahan, dan masyarakat, Gempolsari menjelma menjadi pusat inovasi pengelolaan sampah terpadu.

Surplus 249%: Dari 14 Ton Jadi 35 Ton Per Hari

Dengan timbulan harian sekitar 14 ton, Gempolsari kini mampu mengolah 35 ton sampah per hari, atau 249 persen dari kebutuhannya. Surplus ini membuat Gempolsari bukan hanya bersih, tetapi juga mampu membantu menampung sampah dari kelurahan lain.

TPST MOTAH 21-32 Bakul Agamis: Pusat Inovasi

Keberhasilan Gempolsari tidak lepas dari keberadaan TPST MOTAH 21-32 Bakul Agamis, yang menjadi pusat inovasi pengelolaan sampah. Di dalamnya, berbagai metode diterapkan:

  • MOTAH (Mesin Olah Runtah) untuk efisiensi pengolahan sampah.
  • Buruan SAE memanfaatkan pekarangan untuk pertanian keluarga.
  • Magotisasi mengubah sampah organik jadi pakan ternak.
  • Bata Terawang memanfaatkan residu sebagai bahan bangunan.
  • Penyeumisasi mengurangi bau dengan bioaktivator.
  • Biodigester mengubah organik menjadi energi biogas.
  • Bank Sampah sebagai wadah pengumpulan pilahan rumah tangga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Monitoring Rumah Pompa Air RW 05 Kelurahan Cijerah

26 Mei 2026 - 14:00 WIB

Progres Pembangunan Jaringan Distribusi Utama di Rancamanyar dan Rancamulya

4 Mei 2026 - 15:00 WIB

Macet Parah di Jalur Cikidang Sukabumi Jelang Lebaran Ketiga, Kendaraan Nyaris tak Bergerak

23 Maret 2026 - 02:00 WIB

Kemacetan Parah di Pasar Cisarua Jelang Ramadhan, Dampak Rekayasa Lalu Lintas Jalur Puncak

16 Februari 2026 - 15:00 WIB

NGABAR Bojongmalaka Salurkan Celengan Sedekah Subuh, Perkuat Kepedulian Sosial Warga

15 Februari 2026 - 16:30 WIB

Trending di Berita Daerah