Ngatiyana juga menekankan pentingnya membangun ketahanan pangan dari dalam daerah agar masyarakat tidak tergantung pada komoditas yang dipasok dari luar. Meskipun demikian, beliau menyadari tantangan yang dihadapi terkait lahan pertanian yang semakin terbatas. Dengan kepadatan penduduk yang mencapai 581.994 jiwa di area seluas 40 km², pencarian solusi untuk mengoptimalkan lahan pertanian menjadi sangat krusial.
“Walaupun lahan di Cimahi terbatas, kami berupaya memanfaatkan ruang yang ada secara maksimal untuk pertanian. Kami tidak hanya ingin memenuhi kebutuhan cabai, tetapi juga mendorong masyarakat untuk berperan aktif dalam pertanian,” ungkapnya.
Inovasi di bidang pertanian sangat diperlukan untuk menyiasati keterbatasan lahan tersebut. Diperlukan kerja sama dengan kelompok tani dan kelompok tani wanita untuk menyukseskan ketahanan pangan di Kota Cimahi.
Wali Kota menambahkan, “Dengan inovasi di bidang pertanian ini, kami berharap dapat memberikan manfaat ekonomi bagi petani sekaligus mengurangi dampak inflasi di Kota Cimahi. Kami berkomitmen untuk terus mendampingi dan mendukung para petani agar mereka dapat mencapai keberhasilan.”
Ngatiyana menggarisbawahi bahwa hasil pertanian yang diperoleh akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan beberapa pasar tradisional di Kota Cimahi. “Kami akan mengutamakan pemasaran hasil pertanian ini ke pasar-pasar di Kota Cimahi. Selain mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Sistem Pangan dan Pangan Gratis (SPPG), langkah ini diharapkan dapat menghadirkan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat,” jelasnya.
