Wali Kota Cimahi yang hadir langsung dalam acara tersebut mengungkapkan kebanggaannya atas konsistensi para siswa, guru, dan orang tua yang mendukung penuh gerakan literasi ini. “Kami bangga karena anak-anak di Cimahi sudah terbiasa membaca, bahkan sampai ratusan buku. Ini adalah bukti nyata bahwa program CRH berjalan efektif dan mendapatkan dukungan luas dari masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, peran guru menjadi kunci dalam keberhasilan program ini. Guru tidak hanya mengajarkan membaca dan menulis, tetapi juga memastikan anak-anak tetap mengenal budaya lokal. “Budaya daerah harus terus diperkenalkan sejak dini. Saya bersyukur para guru konsisten memberikan pelajaran tambahan mengenai budaya, sehingga literasi berjalan seiring dengan pelestarian jati diri daerah,” ujar Ngatiyana.
Di tengah gempuran era digital, Ngatiyana menekankan pentingnya inovasi seperti pojok digital di sekolah-sekolah. Pojok digital diharapkan dapat menarik minat anak-anak untuk membaca buku elektronik sekaligus menulis secara kreatif, tanpa terjebak hanya pada penggunaan gawai untuk hiburan. “Kita tidak ingin anak-anak hanya sibuk dengan handphone. Melalui pojok digital, mereka tetap bisa membaca, menulis, dan mengasah kemampuan literasi dengan cara yang lebih modern dan menyenangkan,” tambahnya.
Jambore CRH 2025 juga menghadirkan Bunda Literasi Kota Cimahi, Midjiati Ningsih, yang memberikan motivasi langsung kepada para siswa. Kehadiran Bunda Literasi bukan sekadar simbol, tetapi menjadi energi baru untuk menginspirasi anak-anak agar menjadikan membaca sebagai kebiasaan sehari-hari.
