Secara Historis Probabilitas yang lahir dari Ego Kepemimpinan akan melahirkan kebijakan yang prematur , kita bisa meninjau pada sejarah-sejarah Kerajaan Besar di Indonesia seperti Majapahit dan Singosari juga Samudrapasai semuanya Runtuh karna Ada Ego dari pemangku kebijakan hal serupa terjadi di Masa Kerajaan Roma dan Dinasti Yuan Cina mereka Runtuh karna mengedepankan Ego Sentris Pemimpin dan intrik kekuasaan , ini menjadi Pekerjaan Rumah yang sangat berat bagi para pemimpin hal serupa terendus ada di Pemerintahan Kota Bandung sikap Pedang Tumpul dan Busur Panah melengkung sedang melangit hal ini harus dihindari karena Bandung yang dinamis merupakan bentuk dari keberhasilan pemerintahan itu sendiri, ujar kang Joker.
Selain menyoroti stabilitas politik, Ketua Umum PMPRI juga menyampaikan seruan khusus kepada aparat penegak hukum (APH). Ia meminta agar APH tetap objektif serta memberikan ruang dan kesempatan bagi para pemimpin maupun Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kota Bandung untuk membuktikan integritas mereka.
“Kami meminta kepada pihak APH untuk memberikan kesempatan serta peluang bagi para pemimpin, baik dari jajaran pimpinan daerah maupun para ASN di lingkungan Pemerintah Kota Bandung, untuk memperbaiki diri dan membuktikan kinerja terbaik mereka. Biarkan mereka fokus bekerja, berinovasi, dan menunjukkan kontribusi nyata untuk dan demi masyarakat Kota Bandung,” pungkasnya.
Melalui gerakan moral “Sauyunan Sahate, Bandung Juara!” ini, LSM PMPR Indonesia berharap Kota Bandung dapat kembali menjadi kota yang nyaman, damai, dan bersih dari perselisihan yang kontraproduktif.
Kota Bandung Punya potensi, Kota Bandung punya SDM yang mumpuni maka tidak selayaknya intrik egosentris jadi wajah utama Pemkot Bandung.*
(Red)



























