SAMBAS MEDIA – Ada satu hal yang diam-diam sedang berubah di dunia pendidikan tinggi Indonesia: cara kita melihat seorang rektor. Jika dulu rektor identik dengan jas formal, ruang rapat, dan pidato panjang, kini muncul generasi pemimpin baru—mereka yang bukan hanya memimpin kampus, tapi juga memimpin percakapan ilmiah nasional.
Perubahan itu terlihat jelas ketika daftar 10 rektor dengan H-Index tertinggi di Indonesia dirilis. Angkanya mencengangkan, dan kisah di baliknya jauh lebih menarik.
1. Muhammad Yusuf – Politeknik Praktisi Bandung (H-Index: 57)
Di urutan pertama, ada satu nama yang membuat banyak orang bertanya: “Dari politeknik?”
Ya. Rektor muda berusia 31 Tahun ini, muncul dengan H-Index 57, angka yang biasanya dimiliki profesor senior universitas kelas dunia. Ceritanya tidak biasa—lahir dari kampus vokasi yang jarang masuk headline riset nasional, tetapi ia justru melesat paling tinggi.
Dengan karya ilmiah yang disitasi peneliti internasional dari berbagai disiplin, Yusuf menjadi simbol bahwa kualitas riset tidak pernah mengenal label kampus. Ia adalah bukti bahwa perubahan besar bisa datang dari tempat yang tidak semua orang perhitungkan.
2. Jamaluddin Jompa – Universitas Hasanuddin (H-Index: 41)
Di Makassar, orang mengenalnya sebagai “doktor laut”.
Sebagian besar hidup akademiknya dihabiskan meneliti ekosistem pesisir, dan dunia mendengarkan. Setiap publikasi Jamaluddin Jompa tak ubahnya kompas bagi peneliti kelautan. Tidak heran jika ia menjadi salah satu rektor paling dihormati di Indonesia Timur.
3. Muhammad Ali Fulazzaky – Universitas Djuanda (H-Index: 33)
Perjalanan riset Fulazzaky dimulai dari kegelisahan akan masalah air bersih. Dari laboratorium kecil hingga jurnal internasional, idenya mengalir lebih deras daripada sungai yang ia teliti. Sitasi demi sitasi membuat namanya melambung sebagai salah satu ilmuwan lingkungan paling berpengaruh.




















DFir





