“Kami berupaya bahwa dengan adanya portal open data tersebut masyarakat dimudahkan untuk mencari data sektoral sesuai dengan kebutuhannya, dan apabila data yang dibutuhkan belum tersedia, maka kami persilahkan untuk menghubungi Diskominfo. Dan kami apresiasi atas kolaborasi dari Dinas Lingkungan Hidup, Duta Kel Cipageran, dan BPS yang melakukan pendampingan teknis dalam pengelolaan sampah,” tambah Azis.
Sementara itu, Statistisi Ahli Madya BPS Kota Cimahi, Dewi Mulyahati menjelaskan, survei yang merupakan bagian dari program pembinaan Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) ini menggunakan Google Form sebagai instrumen awal untuk menghimpun data dari masyarakat. Untuk menjaga validitas data, BPS melakukan verifikasi lapangan dengan membandingkan hasil isian Google Form dengan wawancara langsung.“Kemarin kan masyarakat sudah mengisi Google Form. Jadi kami data ulang kembali. Kami melihat perbedaan isian kuesioner antara yang melalui Google Form langsung dikirim dengan wawancara. Kami lihat nanti output-nya adalah melihat uji perbedaan,” jelas Dewi.
Lebih lanjut, Dewi menambahkan, pihaknya berfokus pada pengolahan dan verifikasi data sesuai dengan kuesioner yang telah disusun. “Ada 10 variabel yang kita tanyakan, jadi kami memverifikasi lagi 10 pertanyaan itu. Kami hanya melihat sampai di mana kesadaran masyarakat terhadap pengolahan sampah,” ujarnya.
Hasil survei ini nantinya akan dianalisis oleh BPS dan menjadi rekomendasi untuk DLH Kota Cimahi dalam menyusun program pengelolaan sampah yang lebih tepat sasaran.*
(Red/Bidang IKPS)
