“Seperti kita ketahui bahwa setiap orang per hari menghasilkan 0,4-0,5 kilogram sampah. Bisa dibayangkan jumlah penduduk Cimahi ini ada di sekitar 500 ribu lebih penduduk, berarti per hari itu ada 250 ton sampah yang harus dikelola, bukan dibuang,” ujar Rizal.
Dirinya menambahkan bahwa pengelolaan sampah harus dimulai dari tingkat rumah tangga dengan memilah sampah organik dan anorganik. “Pengelolaan sampah itu diawali dari rumah, yang pertama adalah memilih dan memilah mana sampah organik dan anorganik sehingga ke depannya akan lebih mudah pemanfaatannya,” tutupnya.

Melalui kegiatan Aksi Nyata Bersih Sampah, Pemerintah Kota Cimahi menegaskan pentingnya peran masyarakat dalam memilah dan mengelola sampah dari sumbernya, tidak hanya memindahkan sampah ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA), tetapi juga menekankan pengolahan yang berkelanjutan. Sampah organik diarahkan untuk diolah menjadi kompos atau pakan maggot, sedangkan sampah anorganik bernilai ekonomi tinggi disalurkan ke bank sampah atau industri daur ulang.
Melalui kolaborasi antara pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, dan masyarakat, diharapkan kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan semakin tumbuh kuat. Prinsip reduce, reuse, recycle (3R) akan terus didorong untuk mengurangi beban TPA Sarimukti serta memperkuat budaya peduli lingkungan di masyarakat.*
(Red/Bidang IKPS)

























