Pada kesempatan tersebut, Adhitia menekankan bahwa tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya persoalan kependudukan, melainkan juga darurat literasi. Adhitia menilai bahwa banyak anak memahami lingkungannya, namun lemah dalam literasi mendalam yang berkaitan dengan sejarah, identitas, dan konteks sosial. Karena itu, peran guru menjadi sangat penting untuk menanamkan nilai, membangun pemahaman, dan memberikan fondasi pendidikan yang kuat bagi peserta didik.
Lebih lanjut, Adhitia mengapresiasi adanya lomba penelusuran sejarah dan destinasi budaya di Cimahi yang menghadirkan eksplorasi terhadap 49 situs sejarah. Adhitia menilai kegiatan tersebut sangat relevan untuk membentuk jati diri anak-anak Cimahi agar tidak mengalami darurat identitas, di mana sebagian generasi muda justru merasa lebih dekat dengan kota lain dibandingkan kotanya sendiri. Adhitia juga berpesan agar generasi muda bangga menjadi warga Cimahi. “Kalian harus bangga jadi anak Cimahi. Tempat kalian besar, tumbuh, berkembang. Dan titip, bawa nama baik Kota Cimahi ke depan,” tuturnya.
Selain aspek literasi, Wakil Wali Kota Cimahi juga menyoroti isu kesehatan mental yang kini menjadi tantangan besar bagi generasi muda. Adhitia menyampaikan bahwa data menunjukkan banyak kasus gangguan mental di Kota Cimahi, dan kondisi sosial ekonomi modern turut memberikan tekanan berat kepada anak-anak. Menurutnya, pendekatan pendidikan saat ini harus lebih empatik serta mendengarkan perasaan anak agar tercipta generasi yang bahagia, bukan generasi yang mudah marah atau tersinggung. “Saya titip mengenai mental health anak-anak kita. “Saya ingin anak-anak di Cimahi itu betul-betul menjadi generasi yang happy, bukan generasi yang mudah marah”, jelasnya.
