“Untuk sampah anorganik, ekosistemnya sebenarnya sudah ada. Sudah ada bank sampah, TPS 3R, TPST, dan fasilitas lain yang bisa dimaksimalkan. Ini yang harus diperkuat agar target 2029 bisa tercapai,” katanya.
Sementara itu, Kepala DLH Kota Cimahi, Chanifah Listyarini dalam laporannya menjelaskan bahwa penyelenggaraan HPSN 2026 menjadi bagian dari implementasi Gerakan Nasional Indonesia Asri, yang menekankan kolaborasi seluruh elemen masyarakat dalam menjaga kualitas lingkungan hidup. Tema yang diusung, “Kolaborasi untuk Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah”, menjadi ajakan terbuka untuk memperkuat sinergi lintas sektor menuju pengelolaan sampah yang lebih baik.
Dalam rangkaian peringatan HPSN Kota Cimahi, DLH melaksanakan sejumlah program strategis, di antaranya peresmian Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Utama. Selain itu, dilakukan pengambilan sampel air sumur di Seke Cilimus untuk diuji kualitasnya. Sumur ini muncul kembali sebagai sumber mata air yang sempat tertimbun sejak peristiwa longsor Leuwigajah dua dekade lalu.
DLH juga menghadirkan kaleidoskop pengelolaan sampah Kota Cimahi selama 20 tahun terakhir sebagai ruang refleksi publik, sekaligus peluncuran animasi edukasi digital pengelolaan sampah sebagai media pembelajaran masyarakat. Tidak hanya itu, turut diluncurkan Buku Pedoman Kewilayahan Pengelolaan Sampah Terpadu Tuntas di Tempat sebagai panduan teknis bagi camat dan lurah dalam pengelolaan sampah berbasis wilayah, seiring dengan pelimpahan sebagian kewenangan pengelolaan sampah ke tingkat kewilayahan.
