Menurut dia, praktik produksi yang ramah disabilitas dapat diwujudkan melalui berbagai pendekatan, seperti penyediaan aksesibilitas di lokasi produksi, penggunaan teknologi pendukung, hingga membuka kesempatan kolaborasi bagi kreator difabel dalam berbagai posisi produksi.
Diskusi berlangsung interaktif dengan banyak pertanyaan dari peserta. Antusiasme terlihat dari partisipasi aktif mahasiswa dan akademisi yang tertarik mengembangkan pendekatan inklusif dalam karya sinematografi.
Moderator kegiatan, Dr. Firdaus Azwar Ersyad, mengatakan bahwa forum diskusi semacam ini penting untuk membangun kesadaran kolektif di kalangan akademik.
“Dunia pendidikan memiliki tanggung jawab besar untuk mengubah cara pandang terhadap disabilitas, dari sekadar objek penelitian menjadi subjek yang terlibat aktif dalam proses kreatif,” katanya.
























