Menurutnya, pengelolaan sampah yang baik menjadi salah satu langkah nyata yang harus dilakukan untuk mengurangi dampak lingkungan sekaligus mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.
“Bekerja untuk iklim tidak cukup menjadi slogan. Kita harus mengubah cara mengelola lingkungan, mengurangi timbulan sampah, meningkatkan pemilahan dan daur ulang, serta memastikan seluruh kebijakan pembangunan memiliki perspektif keberlanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Kota Cimahi saat ini menghadapi tantangan serius terkait pengelolaan sampah. Dengan produksi sampah mencapai sekitar 250 ton per hari, diperlukan keterlibatan seluruh elemen masyarakat untuk memastikan sampah dapat diselesaikan sejak dari sumber sebelum berakhir di tempat pemrosesan akhir.
Kondisi ini semakin mendesak seiring rencana penghentian operasional TPA Sarimukti dalam waktu dekat. Untuk mengantisipasi dampaknya, Pemerintah Kota Cimahi terus memperkuat berbagai strategi pengurangan sampah secara terpadu, mulai dari mengoptimalkan fasilitas pengolahan sampah yang telah beroperasi, hingga memperluas edukasi dan perubahan perilaku masyarakat dalam pengelolaan sampah dari sumbernya.
“Pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah. Kami membangun kolaborasi melalui pendekatan pentahelix dengan melibatkan akademisi, dunia usaha, media, komunitas, dan masyarakat agar solusi yang dihasilkan lebih efektif dan berkelanjutan,” kata Ngatiyana.



























