Di balik rimbunnya semak yang cukup tinggi dan medan yang menantang, semangat ratusan peserta tak sedikit pun pudar. Mereka tetap antusias membawa bibit-bibit hijau untuk ditanam di bibir pantai demi masa depan lingkungan yang lebih baik.
Muhamad Fikser, A.P, M.M., yang hadir dalam kegiatan tersebut mengenang bagaimana gerakan serupa telah menjadi budaya di Surabaya sejak puluhan tahun lalu. “Itu cikal bakalnya kerusakan hutan di Pantai Timur Surabaya, tepatnya di Wonorejo. Lalu warga melapor, pemerintah hadir, dan perusahaan seperti Sampoerna merespons dengan program satu juta pohon pada 2003. Akhirnya itu menjadi satu kebiasaan penanaman,” ujarnya.
Menurut Fikser, keberhasilan di Pantai Timur kini ingin direplikasi di wilayah Pantai Utara. Ia menekankan bahwa ekosistem mangrove yang terjaga memberikan dampak ekonomi nyata bagi warga.
“Dampaknya adalah masyarakat di sana punya kebiasaan mencari kepiting, hasilnya meningkat karena mangrove jadi sumber penghidupan. Sekarang kita geser ke Pantai Utara karena di sini pusat bisnis logistik dan transportasi sudah jalan, tapi lingkungannya juga harus terjaga,” tambahnya.
