Menu

Mode Gelap
Stop Politisasi Dana Hibah! Rakyat Tolak Ambulans Ditempel Wajah Pejabat Pengembalian Fungsi Fasilitas Umum sebagai Program Gubernur Jabar dan Walikota Bandung di Kecamatan Bandung Kulon Sosialisasi Program Sekolah dan Parenting Orang Tua Siswa Kelas 7 SMPN 4 Cimahi TA 2026/2027 Keluarga Ketua Umum LSM Tuar Bersatu Menunggu 8 Jam di Lorong RSHS Tanpa Tindakan, Minta Evaluasi Pelayan Rawat Inap Akademisi Empat Negara Bahas AI, Pendidikan, dan Masa Depan Produksi Film di Malaysia “Pencerahan Pengolahan Limbah B3 di RSHS Demi Keselamatan dan Kesehatan Kerja” LSM Tuar Bersatu Dorong Transparansi dan Kepatuhan Aturan

Pendidikan

Rektor UGM: Tiga Prodi UGM Masuk 100 Besar Dunia, Ketiganya dari Sosial Humaniora

Perbesar

Anies juga berbagi refleksi mengenai makna pekerjaan pertama bagi para lulusan muda. Menurutnya, pekerjaan pertama tidak selalu menghadirkan posisi ideal ataupun penghasilan besar, namun memiliki peran penting dalam membentuk karakter. Ia menilai kemampuan menjaga integritas, menepati janji, dan menyelesaikan tugas sederhana dengan sungguh-sungguh justru menjadi fondasi perjalanan karier jangka panjang. Dalam kehidupan profesional, seseorang dibentuk melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari. “Jangan menunggu pekerjaan sempurna untuk memberikan yang terbaik, karena masa depan sering kali dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang dikerjakan dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

Sementara itu, perwakilan wisudawan dari Fakultas Peternakan, Siham Hamda Zaula, membagikan kisah personal tentang perjalanan akademiknya sebagai penyandang disabilitas autisme. Ia mengaku sejak kecil sering merasa berbeda karena mengalami kesulitan memahami situasi sosial dan mudah merasa kewalahan di tengah keramaian. Pengalaman tersebut membuat perjalanan kuliah tidak selalu mudah, terutama saat harus menghadapi kecemasan dan tekanan lingkungan. Namun lingkungan kampus perlahan membantunya memahami bahwa setiap orang memiliki cara bertumbuh yang berbeda. “Hari ini saya belajar bahwa menjadi disabilitas bukan berarti tidak mampu, karena setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing,” ungkapnya.

Dalam pidatonya, Siham juga menyampaikan apresiasi kepada dosen, keluarga, serta Unit Layanan Disabilitas UGM yang mendampinginya selama menempuh pendidikan. Menurutnya, dukungan yang terlihat sederhana sering kali menjadi alasan penting bagi mahasiswa disabilitas untuk tetap melanjutkan mimpi. Ia mengajak para lulusan untuk ikut membangun lingkungan yang lebih inklusif dan terbuka terhadap perbedaan. Baginya, keberagaman bukan sekadar diterima, melainkan perlu dirangkul sebagai kekuatan bersama dalam kehidupan sosial. “Saya berharap kita semua mampu membangun masa depan yang memberi ruang aman bagi siapa pun yang merasa berbeda, karena perbedaan adalah kekuatan,” pungkasnya.*

Sumber: Universitas Gadjah Mada

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Sosialisasi Program Sekolah dan Parenting Orang Tua Siswa Kelas 7 SMPN 4 Cimahi TA 2026/2027

19 Agustus 2026 - 14:00 WIB

Akademisi Empat Negara Bahas AI, Pendidikan, dan Masa Depan Produksi Film di Malaysia

18 Agustus 2026 - 15:31 WIB

Angkat Isu Transformasi Bisnis Berkelanjutan, 189 Kandidat Doktor Manajemen dari Seluruh Indonesia Kumpul di UNPAR

6 Agustus 2026 - 16:00 WIB

Sosialisasi Program Kerja SMP Negeri 1 Margahayu Tahun Ajaran 2026-2027

5 Agustus 2026 - 14:00 WIB

STIKOM Bandung Dorong Mahasiswa Adaptif di Era Disrupsi Digital Lewat STIKOM Expo 2026

31 Juli 2026 - 11:36 WIB

Trending di Pendidikan
Exit mobile version