Menu

Mode Gelap
Film Scholar Indonesia Press Luncurkan Program Penerbitan Buku Gratis untuk Guru Broadcasting dan Film Hasil Evaluasi Internal Reformasi Birokrasi (RB) Perangkat Daerah Ketum PMPRI Desak KPK dan BPKP Usut Tuntas Dugaan Mark-Up Gembok Ditjen PAS Senilai Rp 92 Miliar SMK Widya Dirgantara bersama Kodim 0618/Kota Bandung gelar Korps Kadet Republik Indonesia JayJax dan Mister Aloy Buka Babak Baru Lewat Album OURORA YULI JJS Kenalkan Single Terbaru “Kang Mas”, Padukan Pop Jawa dan Nuansa Modern

Pendidikan

Rektor UGM: Tiga Prodi UGM Masuk 100 Besar Dunia, Ketiganya dari Sosial Humaniora

badge-check

Rektor UGM: Tiga Prodi UGM Masuk 100 Besar Dunia, Ketiganya dari Sosial Humaniora Perbesar

Anies juga berbagi refleksi mengenai makna pekerjaan pertama bagi para lulusan muda. Menurutnya, pekerjaan pertama tidak selalu menghadirkan posisi ideal ataupun penghasilan besar, namun memiliki peran penting dalam membentuk karakter. Ia menilai kemampuan menjaga integritas, menepati janji, dan menyelesaikan tugas sederhana dengan sungguh-sungguh justru menjadi fondasi perjalanan karier jangka panjang. Dalam kehidupan profesional, seseorang dibentuk melalui keputusan-keputusan kecil yang dilakukan secara konsisten setiap hari. “Jangan menunggu pekerjaan sempurna untuk memberikan yang terbaik, karena masa depan sering kali dibangun dari keputusan-keputusan kecil yang dikerjakan dengan penuh tanggung jawab,” katanya.

Sementara itu, perwakilan wisudawan dari Fakultas Peternakan, Siham Hamda Zaula, membagikan kisah personal tentang perjalanan akademiknya sebagai penyandang disabilitas autisme. Ia mengaku sejak kecil sering merasa berbeda karena mengalami kesulitan memahami situasi sosial dan mudah merasa kewalahan di tengah keramaian. Pengalaman tersebut membuat perjalanan kuliah tidak selalu mudah, terutama saat harus menghadapi kecemasan dan tekanan lingkungan. Namun lingkungan kampus perlahan membantunya memahami bahwa setiap orang memiliki cara bertumbuh yang berbeda. “Hari ini saya belajar bahwa menjadi disabilitas bukan berarti tidak mampu, karena setiap orang memiliki jalan dan waktunya masing-masing,” ungkapnya.

Dalam pidatonya, Siham juga menyampaikan apresiasi kepada dosen, keluarga, serta Unit Layanan Disabilitas UGM yang mendampinginya selama menempuh pendidikan. Menurutnya, dukungan yang terlihat sederhana sering kali menjadi alasan penting bagi mahasiswa disabilitas untuk tetap melanjutkan mimpi. Ia mengajak para lulusan untuk ikut membangun lingkungan yang lebih inklusif dan terbuka terhadap perbedaan. Baginya, keberagaman bukan sekadar diterima, melainkan perlu dirangkul sebagai kekuatan bersama dalam kehidupan sosial. “Saya berharap kita semua mampu membangun masa depan yang memberi ruang aman bagi siapa pun yang merasa berbeda, karena perbedaan adalah kekuatan,” pungkasnya.*

Sumber: Universitas Gadjah Mada

(Red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Film Scholar Indonesia Press Luncurkan Program Penerbitan Buku Gratis untuk Guru Broadcasting dan Film

7 Juli 2026 - 15:39 WIB

SMK Widya Dirgantara bersama Kodim 0618/Kota Bandung gelar Korps Kadet Republik Indonesia

3 Juli 2026 - 15:02 WIB

Program CSR dan Kegiatan Berbagi Ilmu Akademis Politeknik Banting Selangor Malaysia di MTs Ash-Shofa

30 Juni 2026 - 16:00 WIB

Peresmian Sekolah Stand Up Paddel Surabaya (SUP) di Sungai Kalimas

28 Juni 2026 - 15:00 WIB

SMK Pasundan 3 Cimahi, CSR dalam Pendidikan menjadi Sekolah Swasta Kerja Sama

27 Juni 2026 - 15:00 WIB

Trending di Pendidikan