Melalui pra-acara ini, YKABF juga memperkuat posisinya dalam jaringan global art book fair dan penerbit independen, sekaligus mencerminkan meningkatnya relevansi praktik penerbitan alternatif dalam membentuk wacana budaya kontemporer.
“Penerbitan independen membuka ruang bagi produksi dan distribusi pengetahuan di luar struktur konvensional. Di dalamnya, muncul suara-suara yang lebih beragam, personal, dan kritis—sesuatu yang semakin penting dalam lanskap budaya hari ini,” ujar Tarlen Handayani, pegiat literasi dan praktisi budaya.

Lebih dari sekadar wacana, YKABF juga menempatkan artbook sebagai bagian dari praktik visual yang lebih luas—di mana bentuk, isi, dan material menjadi satu kesatuan pengalaman.
“Dalam konteks budaya visual, artbook bukan sekadar wadah konten, tetapi juga bentuk ekspresi itu sendiri. Ia berada di persimpangan antara desain, narasi, dan eksplorasi material—menjadikannya bagian penting dalam cara kita memahami praktik kreatif kontemporer,” tambah Daud Sihombing, peneliti, penerbit Petrikor Books.























