Menu

Mode Gelap
BGN Libatkan Sekolah dan Pemda Perkuat Validasi Data Penerima Makan Bergizi Gratis Eat Grill.id Hadir di Bandung, Tawarkan Konsep AYCE dengan Pelayanan Setara dan Makan Sepuasnya YELLO Hotel Paskal Bandung Perkenalkan Paket Wedding, Ulang Tahun, dan Table Manner dengan Konsep Kekinian Sosialisasi SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 Wilayah 4 Disdik Kabupaten Bandung Enam Terduga Pelaku Perundungan Siswi di Tana Toraja Diamankan Polisi ibis Bandung Trans Studio Tawarkan Paket Liburan Sekolah Lengkap dengan Tiket Trans Studio Bandung

Artikel

Saat Bogor Menjadi Tameng Jakarta dan Alam yang Membayar Harga

Perbesar

Tugu Pancakarsa Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Oleh: Risty Oktaviani Anwar

SAMBAS MEDIA – BOGOR dikenal sebagai Kota Hujan. Julukan yang bukan sekedar penanda cuaca, namun juga sebagai simbol kesejukan, kesuburan, dan kedekatan dengan alam. Sebagian orang memandang Bogor sebagai ruang jeda dari hiruk-pikuk Jakarta—dijadikan tempat untuk bernapas, menetap, atau sekadar singgah. Namun di balik fakta yang ada, Bogor memikul peran yang jauh lebih berat : Tameng Jakarta.

Disaat Ibu Kota semakin padat dan panas, Bogor menyediakan ruang hidup, air, dan kawasan resapan yang tidak lagi cukup di Jakarta. Ironisnya, peran strategis ini menuntut harga mahal : alam Bogor perlahan menanggung beban pembangunan metropolitan.

Berperan sebagai kota penyangga, Bogor tidak hanya menampung limpahan penduduk Jakarta, tetapi juga menjalankan fungsi ekologis yang krusial. Wilayah tersebut merupakan bagian dari kawasan hulu bagi sejumlah sungai yang mengalir ke Jakarta. Air hujan yang jatuh di Bogor, tanah yang menyerap, serta hutan dan ruang hijau yang menahannya, memiliki peran besar untuk menjaga keseimbangan kawasan metropolitan. Ketika fungsi tersebut terganggu dampaknya tidak hanya berhenti di Bogor, melainkan ikut menjalar hingga wilayah hilir.

Tekanan terhadap ruang Bogor semakin nyata terjadi dalam dua dekade terakhir. Bogor menjadi rumah bagi jutaan komuter. Setiap harinya arus manusia menuju Jakarta mendorong kebutuhan perumahan, jalan dan fasilitas penunjang. Tanpa adanya pengendalian tata ruang yang kuat, pembangunan ini mengorbankan fungsi ekologis. Bogor dilema : antara tuntutan ekonomi dan keberlanjutan lingkungan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konsumsi 4 Asupan Ini agar Tetap Sehat Pasca Idul Adha

28 Mei 2026 - 23:01 WIB

Persib sebagai Identitas Historis Bandung

20 Mei 2026 - 10:00 WIB

PASASA PATREM 2026 (Ngaraksa Aksara, Nyuburkeun Rasa di Lembur Organik Cikancung)

11 Mei 2026 - 14:00 WIB

FKSS Jabar: Sekolah Maung Berpotensi Menciptakan Diskriminatif dalam Dunia Pendidikan

27 April 2026 - 11:00 WIB

Ti Jepara ka Mancanagara

21 April 2026 - 09:48 WIB

Trending di Artikel
Exit mobile version