Indonesia diwakili Dr. Firdaus Azwar Ersyad dari Telkom University yang mengangkat participatory cinema sebagai pendekatan transformasi pendidikan film.
Menurut perspektif tersebut, mahasiswa tidak hanya ditempatkan sebagai penerima pengetahuan, melainkan bekerja bersama komunitas dalam menemukan persoalan, mengembangkan cerita, mengambil keputusan kreatif, memproduksi film, hingga melakukan pemutaran dan refleksi bersama.
Pendekatan itu juga menekankan persoalan etika, seperti informed consent, representasi identitas lokal, kepemilikan cerita, dan pentingnya menghindari hubungan yang eksploitatif antara pembuat film dan masyarakat.
Sementara itu, Wan Suhana binti Wan Mohammad, praktisi pendidikan dari Malaysia, menyoroti penggunaan AI di sekolah. Isunya meliputi kesiapan digital guru dan siswa, akurasi informasi, ketergantungan terhadap AI, pelatihan guru, serta perlunya pedoman penggunaan teknologi yang jelas dan bertanggung jawab.
Dari Inggris, Megan Booth, peneliti bidang film dari Arts University Bournemouth, membahas pengaruh AI terhadap virtual production dan produksi film kontemporer. Perubahan tersebut terlihat pada tahap pravisualisasi, pengembangan konsep, storyboard, pembuatan aset digital, hingga pascaproduksi.
