“Dalam kajian komunikasi publik dan psikologi sosial, penghinaan berbasis identitas etnis adalah salah satu bentuk hate speech yang paling berbahaya,” ujarnya.
Menurutnya, ada setidaknya empat faktor yang membuat pernyataan Resbob tidak bisa dianggap remeh:
1. Mengandung unsur SARA, menyasar identitas etnis dan komunitas budaya.
2. Daya sebar cepat, mengingat platform digital memungkinkan viralitas dalam hitungan menit.
3. Berpotensi membentuk sentimen negatif, bahkan di antara kelompok yang sebelumnya tidak terlibat.
4. Dapat memicu konflik horizontal, terutama di daerah dengan identitas komunal kuat.
“Konten digital memiliki efek kumulatif. Ucapan seperti ini tidak pernah berdiri sendiri. Ia membentuk persepsi, menggerakkan emosi kolektif, dan pada titik tertentu dapat memantik tindakan massa,” jelas Yusuf.
Bobotoh dan Sunda: Identitas yang Harus Dihormati
Lebih lanjut, Yusuf menegaskan bahwa komunitas bobotoh bukan hanya kelompok suporter biasa, tetapi entitas sosial yang memiliki solidaritas, sejarah, dan nilai kebersamaan yang kuat, menjadi bobotoh sebuah budaya turun menurun yang diturunkan dari generasi ke generasi.
“Bobotoh adalah salah satu komunitas suporter terbesar di Indonesia. Mereka punya nilai budaya, kontribusi sosial, dan reputasi kebersamaan yang selalu dijaga,” katanya.
Karena itu, ia menilai penghinaan tersebut bukan hanya menyentuh ranah sepak bola, tetapi juga identitas kolektif masyarakat Jawa Barat, khususnya Sunda.
