“Festival ini bukan sekadar hiburan, melainkan sarana memperkuat persatuan dan menjaga keharmonisan. Perbedaan suku, agama, dan budaya bukan alasan untuk terpecah, justru menjadi kekuatan untuk membangun Cimahi yang aman, rukun, dan kondusif,” ujar Ngatiyana.
Ia menjelaskan, nama Sangkuriang dipilih sebagai simbol semangat kerja cepat, kolaboratif, dan efektif. Filosofi tersebut tercermin dari proses perencanaan hingga pelaksanaan kegiatan yang dilakukan secara terkoordinasi dan tepat sasaran. Ngatiyana juga menegaskan bahwa Festival Sangkuriang dilaksanakan menggunakan sebagian dana APBD namun sebagian besar anggaran berasal swadaya oleh Forum Pembauran Kebangsaan dengan dukungan berbagai mitra.
Ketua Forum Pembauran Kebangsaan Kota Cimahi, Totong Solehudin, menyampaikan bahwa FPK merupakan wadah pembauran etnis yang dibentuk sesuai amanat peraturan perundang-undangan. Saat ini, FPK Kota Cimahi menaungi 23 etnis yang secara aktif berpartisipasi dalam menjaga kerukunan dan harmoni sosial.
“Festival Sangkuriang kami rancang sebagai ruang temu lintas etnis, ruang dialog, serta panggung kebudayaan. Harapannya, kegiatan ini dapat menjadi agenda tahunan dan ke depan dikembangkan sebagai kalender event budaya yang berkelanjutan,” ungkap Totong.
























