Menu

Mode Gelap
Surat Edaran KPK dalam Pencegahan Korupsi dan Pungli di SPMB 150 Siswa SMA Jabar Pulang Bawa Karakter Baru BGN Libatkan Sekolah dan Pemda Perkuat Validasi Data Penerima Makan Bergizi Gratis Eat Grill.id Hadir di Bandung, Tawarkan Konsep AYCE dengan Pelayanan Setara dan Makan Sepuasnya YELLO Hotel Paskal Bandung Perkenalkan Paket Wedding, Ulang Tahun, dan Table Manner dengan Konsep Kekinian Sosialisasi SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 Wilayah 4 Disdik Kabupaten Bandung

Artikel

Gabungkan Ilmu Psikologi dan Antropologi, Prof. Subandi Kembangkan Terapi Kesehatan Mental Berbasis Budaya

Perbesar

SAMBAS MEDIA – Berangkat dari kecintaannya pada ilmu antropologi sejak di bangku SMA, Subandi tetap mempelajari ilmu tersebut meski ia sudah kuliah di prodi Psikologi Universitas Gadjah Mada. Saat lulus dan melamar menjadi dosen, Subandi menggabungkan kedua ilmu tersebut untuk terapi kesehatan mental berbasis budaya dan spiritual.

Guru Besar Fakultas Psikologi UGM ini menceritakan perjalanan panjang kariernya sebagai akademisi. Mengabdi sejak tahun 1986, ia menjalankan berbagai kegiatan Tridharma Perguruan Tinggi, terutama di bidang penelitian. Meskipun berlatar belakang psikologi, ia memiliki ketertarikan besar terhadap antropologi dan didukung dengan kesenangannya untuk menulis. Setelah mengikuti saran dari gurunya untuk mengambil prodi Psikologi UGM dan dinyatakan lolos sebagai mahasiswa, ia tetap mengeksplorasi antropologi melalui penelitian dan kolaborasi internasional selama puluhan tahun hingga saat ini.

Kecintaannya terhadap antropologinya semakin mendalam ketika ia bekerja sama dengan antropolog luar negeri. Pada tahun 1996, ia menjadi asisten Prof. Byron Good, seorang antropolog kesehatan mental dari Harvard University. “Kolaborasi ini berlangsung lebih dari 25 tahun dan menghasilkan berbagai penelitian mendalam tentang kesehatan mental dalam perspektif budaya,” kenangnya, Sabtu (11/1).

Selain itu, Prof. Subandi juga pernah bekerja sama dengan Dr. Julia Howell dari Griffith University di Australia selama lima tahun. Kolaborasi ini mengintegrasikan pendekatan antropologi dalam riset kesehatan mentalnya, termasuk pengembangan sistem layanan kesehatan mental berbasis budaya dan spiritualitas, “Kami tidak hanya mengumpulkan data, tetapi juga melakukan action research sehingga penelitian kamu langsung berdampak nyata bagi masyarakat,” jelasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konsumsi 4 Asupan Ini agar Tetap Sehat Pasca Idul Adha

28 Mei 2026 - 23:01 WIB

Persib sebagai Identitas Historis Bandung

20 Mei 2026 - 10:00 WIB

PASASA PATREM 2026 (Ngaraksa Aksara, Nyuburkeun Rasa di Lembur Organik Cikancung)

11 Mei 2026 - 14:00 WIB

FKSS Jabar: Sekolah Maung Berpotensi Menciptakan Diskriminatif dalam Dunia Pendidikan

27 April 2026 - 11:00 WIB

Ti Jepara ka Mancanagara

21 April 2026 - 09:48 WIB

Trending di Artikel
Exit mobile version