Tantangan Mutu dan Reputasi
Dalam beberapa tahun terakhir, kebijakan pendidikan tinggi menempatkan publikasi ilmiah sebagai salah satu indikator kinerja dosen dan institusi. Publikasi tidak lagi dipandang sebatas kewajiban administratif, tetapi juga bagian dari upaya membangun reputasi akademik dan daya saing perguruan tinggi. Pembina PERDIBROFI Jawa Barat, Dr. Firdaus Azwar Ersyad, menilai peningkatan jumlah artikel perlu diimbangi dengan kualitas dan tata kelola jurnal yang baik agar tidak berdampak pada kredibilitas akademik.
“Yang kita bangun bukan sekadar wadah terbitan, tetapi sistem yang menjamin mutu. Jurnal harus dikelola dengan standar yang jelas, terbit secara konsisten, dan memiliki proses review yang kredibel,” ujarnya.
Menurutnya, kolaborasi antara organisasi profesi dan perguruan tinggi menjadi strategi untuk mengintegrasikan jejaring praktisi dengan penguatan akademik. Sinergi tersebut diharapkan dapat memperluas perspektif keilmuan, khususnya di bidang komunikasi, broadcasting, dan film yang terus berkembang seiring dinamika industri digital.
Momentum Penguatan Budaya Riset
Wakil Ketua I Bidang Akademik dan Kerja Sama STIKOM Bandung, Muhammad Farid, menyebut kerja sama ini sebagai momentum strategis untuk membangun budaya riset yang lebih kokoh di lingkungan kampus.
“Kami mengapresiasi kolaborasi ini karena memberi ruang konkret bagi dosen untuk terlibat dalam ekosistem publikasi yang terstruktur dan profesional. Ini bukan hanya soal menerbitkan artikel, tetapi membangun tradisi akademik,” kata Farid.

























