Gus Adib juga menyoroti tantangan besar berupa kurangnya komunikasi sebagai salah satu akar konflik di masyarakat.
“Sebagian besar persoalan kita adalah komunikasi. Karena itu, membangun komunikasi yang berkelanjutan menjadi kunci utama dalam menjaga kerukunan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Jawa Barat menjadi salah satu pilot project dalam pengembangan sistem SI-RUKUN, bersama beberapa provinsi lainnya. Sistem ini diharapkan mampu menjadi dashboard nasional dalam pemantauan dan penanganan potensi konflik keagamaan.

“Ke depan, Indonesia diharapkan menjadi rujukan dunia dalam praktik baik kerukunan umat beragama. Kita punya potensi besar untuk itu,” katanya.
Melalui kegiatan ini, Kementerian Agama menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi, kolaborasi, serta pemanfaatan teknologi dalam menjaga stabilitas sosial keagamaan. Dengan penguatan sistem SI-RUKUN, diharapkan potensi konflik dapat dideteksi lebih awal dan ditangani secara cepat, sehingga tercipta Jawa Barat yang semakin damai, harmonis, dan sejahtera.*
(Red/Kemenag Jawa Barat)

























