Ia menjelaskan bahwa pengembangan akademik di UGM dilakukan secara komprehensif, termasuk melalui penguatan bidang ilmu sosial humaniora yang memperoleh pengakuan dunia. “Pendidikan berperan sebagai ruang pembebasan yang menghadirkan keadilan dan kemajuan bagi masyarakat, karena kebutuhan manusia tidak selalu diukur dari kebutuhan industri semata, melainkan juga kebutuhan kehidupan itu sendiri,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Rektor juga menyoroti pentingnya membangun lulusan yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, gelar akademik tidak berhenti pada capaian administratif ataupun keberhasilan memperoleh pekerjaan. Pengalaman belajar di kampus diharapkan membentuk integritas, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk menghadapi tantangan masa depan. Berbagai pengalaman pembelajaran kolaboratif, penelitian, KKN-PPM, hingga aktivitas kemahasiswaan menjadi ruang pembentukan karakter bagi mahasiswa UGM. “Menjadi lulusan UGM bukan sekadar mengantongi ijazah, tetapi menjadi pribadi yang memiliki karakter moral unggul serta mampu memberi dampak bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Dewan Pakar Pengurus Pusat KAGAMA, Anies Baswedan, mengajak para lulusan untuk memandang kehidupan setelah wisuda secara realistis sekaligus penuh harapan. Ia mengingatkan bahwa para lulusan memasuki dunia kerja pada situasi ekonomi yang tidak mudah, dengan pasar kerja yang semakin kompetitif. Namun menurutnya, generasi yang lahir pada masa sulit justru sering menjadi generasi yang paling tangguh. Ia menjelaskan bahwa tantangan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan ruang pembelajaran yang membentuk ketahanan diri seseorang. “Generasi yang lulus di masa sulit sering kali menjadi generasi yang paling kuat karena mereka belajar bertahan, belajar membaca keadaan, dan belajar tumbuh di tengah keterbatasan,” tuturnya.
























