Menu

Mode Gelap
Kolaborasi Lintas Sektoral, Pemkab Bandung Susun Strategi Tangani Banjir, Sampah dan Kekeringan Gala Siswa Indonesia (GSI) Tingkat Kota Cimahi Tahun 2026 Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia “Saatnya Bekerja untuk Iklim” Gentra Lestari Budaya (GLB) Sukses Tampil di Perancis dalam Misi Kebudayaan Komunitas Salapanopat Satukan Alumni SMA se-Jawa Barat Lewat Turnamen Olahraga Persahabatan bank bjb Dorong Sport Tourism Lewat Kesuksesan Suroboyo 10K di Kota Surabaya

Pendidikan

Rektor UGM: Tiga Prodi UGM Masuk 100 Besar Dunia, Ketiganya dari Sosial Humaniora

badge-check

Rektor UGM: Tiga Prodi UGM Masuk 100 Besar Dunia, Ketiganya dari Sosial Humaniora Perbesar

Ia menjelaskan bahwa pengembangan akademik di UGM dilakukan secara komprehensif, termasuk melalui penguatan bidang ilmu sosial humaniora yang memperoleh pengakuan dunia. “Pendidikan berperan sebagai ruang pembebasan yang menghadirkan keadilan dan kemajuan bagi masyarakat, karena kebutuhan manusia tidak selalu diukur dari kebutuhan industri semata, melainkan juga kebutuhan kehidupan itu sendiri,” ungkapnya.

Dalam sambutannya, Rektor juga menyoroti pentingnya membangun lulusan yang berdampak bagi masyarakat. Menurutnya, gelar akademik tidak berhenti pada capaian administratif ataupun keberhasilan memperoleh pekerjaan. Pengalaman belajar di kampus diharapkan membentuk integritas, kemampuan berpikir kritis, dan keberanian untuk menghadapi tantangan masa depan. Berbagai pengalaman pembelajaran kolaboratif, penelitian, KKN-PPM, hingga aktivitas kemahasiswaan menjadi ruang pembentukan karakter bagi mahasiswa UGM. “Menjadi lulusan UGM bukan sekadar mengantongi ijazah, tetapi menjadi pribadi yang memiliki karakter moral unggul serta mampu memberi dampak bagi kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Dewan Pakar Pengurus Pusat KAGAMA, Anies Baswedan, mengajak para lulusan untuk memandang kehidupan setelah wisuda secara realistis sekaligus penuh harapan. Ia mengingatkan bahwa para lulusan memasuki dunia kerja pada situasi ekonomi yang tidak mudah, dengan pasar kerja yang semakin kompetitif. Namun menurutnya, generasi yang lahir pada masa sulit justru sering menjadi generasi yang paling tangguh. Ia menjelaskan bahwa tantangan bukan sesuatu yang harus ditakuti, melainkan ruang pembelajaran yang membentuk ketahanan diri seseorang. “Generasi yang lulus di masa sulit sering kali menjadi generasi yang paling kuat karena mereka belajar bertahan, belajar membaca keadaan, dan belajar tumbuh di tengah keterbatasan,” tuturnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Pameran Fotografi Jurusan Produksi Film SMKN 5 Bandung “Lenscapt 2026: Within the Frame of Fantasy”

4 Juni 2026 - 13:00 WIB

Pagelaran Apresiasi Sastra Kolaboratif Vol.3 SMKN 5 Bandung dalam Puisi dan Drama

3 Juni 2026 - 14:00 WIB

150 Siswa SMA Jabar Pulang Bawa Karakter Baru

2 Juni 2026 - 10:00 WIB

Creative Fest SMK Negeri 3 Cimahi Peringati Dies Natalis Ke-57

25 Mei 2026 - 16:25 WIB

MoU SMK Angkasa Tasikmalaya Bersama PT Chlorine Digital Media

22 Mei 2026 - 18:00 WIB

Trending di Pendidikan