“Kami ingin menggerakkan kembali semangat kepedulian lingkungan. Ini bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi aksi nyata yang berkelanjutan, apalagi momentum ini bertepatan dengan Hari Bumi dan juga menyongsong hari jadi Kota Surabaya,” ujarnya.
Kegiatan ini turut melibatkan berbagai elemen, diantaranya perwakilan komunitas, forum lintas komunitas, tokoh masyarakat, serta organisasi profesi seperti Persatuan Insinyur Indonesia Jawa Timur. Selain itu, dukungan juga datang dari kalangan akademisi, termasuk Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN), yang telah menyatakan kesiapan untuk ikut serta dalam kegiatan penanaman mangrove tersebut.
Rencana kegiatan ini akan dipusatkan di kawasan pesisir, dengan konsep kolaboratif yang melibatkan ratusan relawan. Pengalaman sebelumnya dalam penanaman mangrove di wilayah Asemrowo menjadi referensi penting, dimana kegiatan serupa mampu menggerakkan hingga 500 personel dalam satu aksi terpadu yang diawali dengan apel dan pembukaan seremonial.
Tidak hanya fokus pada aspek lingkungan, kegiatan ini juga akan dikemas secara kreatif dengan sentuhan nilai seni dan budaya. Beberapa komunitas bahkan berencana menghadirkan atraksi unik seperti pengibaran bendera di tengah laut, sebagaimana pernah dilakukan sebelumnya dengan dukungan relawan kebencanaan.
