- Kategori Best Documentary: African Roots: The Hearts of Little Black Sheep dan Hikayatussistance.
- Kategori Best Live Action (Fiction): Inferno in the South dan Fish, Please!.
Film-film yang tayang pada hari kedua ini memberikan gambaran yang kaya akan isu dan gaya sinema dari berbagai negara, sesuai dengan ambisi festival menuju kancah internasional.
Khrisna Refiaji, selaku Festival Director, mengapresiasi semangat yang ditunjukkan oleh audiens dan pihak pendukung, “Di acara hari ini menarik, audiens semakin meningkat, atensinya pun semakin hangat. Walaupun pada siang hari sempat redup hujan, tapi ternyata ketika malam langsung reda dan sesuai dengan konsep kita. Selain itu warga Sumedang mendukung kita dengan baik, hingga beberapa production house pun ikut hadir bersama. Goethe-Institut Bandung dan GreenMind Unity ikut membuat acara semakin menarik. Semoga acara hari ini bisa menjadi langkah kecil Sumedang ke ranah ASEAN dan Australia.”
Senada dengan itu, Anggun Gunara, Project Leader, menekankan pentingnya antusiasme publik, “Walaupun kita hari ini sempat terkendala hujan pada siang hari, tapi reaksi-reaksi audiens menunjukkan antusias luar biasa mereka. Harapan kami, mudah-mudahan festival ini bisa lebih meletakkan Sumedang pada peta event di skala internasional.”
Dengan suksesnya dua hari rangkaian Screening dan Exhibition ini, SSFF 2025 semakin membuktikan diri sebagai event yang wajib disorot di peta festival film internasional, menggabungkan seni sinema dengan kepedulian sosial dan lingkungan. Jangan lewatkan sisa hari festival! Panitia mengundang komunitas film, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk segera bergabung dan meramaikan rangkaian acara hari ketiga dan keempat. Bersama-sama, kita dukung film pendek, perkuat solidaritas, dan tunjukkan kehangatan sinema dari Sumedang untuk dunia Tenggara.
(Red)
