“Dengan edukasi dan pelatihan yang tepat, TOGA bisa menjadi produk herbal rumahan yang punya nilai ekonomi. Ini peluang besar bagi masyarakat,” ujarnya.
Menurut dr. Ika, pelestarian TOGA seharusnya dimulai dari rumah, sebagai unit terkecil dalam masyarakat. Kesadaran menanam, mengenali, dan memanfaatkan tanaman obat tradisional perlu kembali dibudayakan, sebagaimana dilakukan oleh generasi terdahulu.
“TOGA adalah bagian dari kekayaan budaya Indonesia. Bukan sekadar tanaman, tetapi juga representasi dari kearifan lokal dan gaya hidup sehat yang berbasis alam. Dalam setiap rebusan jahe atau temulawak, terkandung nilai warisan leluhur yang mengajarkan kita cara menjaga kesehatan dengan apa yang ada di sekitar.*
(Red/Kemenkes)
























