Menu

Mode Gelap
Mahasiswa INU Ciamis Desak Penelusuran Dugaan Intimidasi dan Kebocoran Informasi Aksi Demonstrasi STIKOM Bandung Dorong Mahasiswa Adaptif di Era Disrupsi Digital Lewat STIKOM Expo 2026 Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi Gelar Konferensi Pers Terkait Rebranding RSUD Cibabat GAUL 2026 Hadirkan Kolaborasi Ekonomi Kreatif, Film Ra.ha.yu Jadi Simbol Sinergi Lintas Sektor IRPRO 2026 Sukses Digelar di Bandung, Satukan Peneliti Muda dari 12 Negara dalam Ajang Inovasi Global Disdikbud Kabupaten Subang Laksanakan Uji Kompetensi Guru, Kasubag Umpeg Turut Awasi Pelaksanaan di SMPN 4 Subang

Artikel

Dolar Naik, Rupiah Tersungkur; Siapa yang Sebenarnya Mengkhianati Ekonomi Nasional?

badge-check

Dolar Naik, Rupiah Tersungkur; Siapa yang Sebenarnya Mengkhianati Ekonomi Nasional? Perbesar

Kelima: Swasembada Pangan dan Industrialisasi Pertanian.

Ketergantungan pangan terhadap impor adalah bom waktu nilai tukar. Program perluasan lahan, modernisasi pertanian, serta pembangunan agroindustri domestik bukan sekadar kebijakan sektor pangan, tetapi instrumen stabilitas rupiah. Pangan mandiri berarti impor turun, dan tekanan kurs pun ikut mereda. Neolib anti terhadap ini karena mereka melihat pangan sebagai komoditas, bukan sebagai fondasi kedaulatan.

Keenam: Local Currency Transaction (LCT) dan diversifikasi mata uang perdagangan.

Perluasan transaksi rupiah–ringgit, rupiah–bath, rupiah–yuan, hingga cross-border QR adalah strategi melemahkan dominasi USD. Ini bukan teknis perbankan; ini adalah langkah strategis memindahkan perdagangan dari orbit dolar ke orbit regional. Dogma neolib selalu menganggap dolar sebagai satu-satunya acuan stabilitas. Justru di titik itulah kita harus melawan.

Ketujuh: Penguatan cadangan devisa negara melalui penertiban ekspor, transparansi rantai pasok, dan optimalisasi penerimaan negara.

Ketika cadangan devisa kuat, rupiah punya bantalan menghadapi geopolitik. Neolib membenci ini karena mereka ingin pasar yang menentukan nilai tukar, bukan negara yang memegang kendali.

Semua program ini menyampaikan pesan yang sama: Indonesia sedang bergerak kembali ke jalur kedaulatan ekonomi. Dan kedaulatan itu tidak kompatibel dengan neoliberalisme.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Koreksi terhadap Kebijakan Pendidikan di Jabar Tentang Sekolah Maung

14 Juni 2026 - 15:00 WIB

Konsumsi 4 Asupan Ini agar Tetap Sehat Pasca Idul Adha

28 Mei 2026 - 23:01 WIB

Persib sebagai Identitas Historis Bandung

20 Mei 2026 - 10:00 WIB

PASASA PATREM 2026 (Ngaraksa Aksara, Nyuburkeun Rasa di Lembur Organik Cikancung)

11 Mei 2026 - 14:00 WIB

FKSS Jabar: Sekolah Maung Berpotensi Menciptakan Diskriminatif dalam Dunia Pendidikan

27 April 2026 - 11:00 WIB

Trending di Artikel