Tingginya risiko academic burnout pada peserta didik yang mencapai angka 60-78% merupakan persoalan yang perlu mendapat perhatian serius dalam sistem pendidikan. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan tingginya beban akademik, tetapi juga dipengaruhi oleh proses adaptasi terhadap lingkungan belajar, tuntutan pencapaian, tekanan sosial, serta kesiapan psikologis peserta didik dalam menghadapi perubahan jenjang pendidikan. Jika tidak ditangani secara tepat, academic burnout dapat berdampak pada menurunnya motivasi belajar, konsentrasi dan prestasi akademik.
Salah satu faktor yang berpotensi meningkatkan tekanan akademik adalah transisi pendidikan yang cukup drastis, khususnya bagi lulusan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) yang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selama menempuh pendidikan di SMK, peserta didik umumnya memperoleh pembelajaran yang lebih banyak berorientasi pada praktik dan penguasaan keterampilan sesuai bidang keahlian.
Ketika memasuki perguruan tinggi, mereka dihadapkan pada lingkungan akademik yang memiliki tuntutan berbeda, seperti pembelajaran yang lebih teoritis, kemampuan analisis dan berpikir kritis, penelitian, manajemen waktu, serta penyelesaian berbagai tugas dalam waktu yang relatif terbatas.
Perubahan tuntutan tersebut dapat menimbulkan kesulitan adaptasi atau academic shock, terutama apabila mahasiswa belum memiliki kesiapan akademik, keterampilan belajar mandiri, dan kemampuan mengelola stres yang memadai. Tekanan untuk memperoleh nilai yang baik, beradaptasi dengan lingkungan sosial baru, serta memenuhi ekspektasi keluarga dan lingkungan dapat semakin memperbesar beban psikologis.





























