Untuk memutus rantai permasalahan academic burnout tersebut, diperlukan sebuah inovasi yang tidak hanya berfokus pada penanganan ketika masalah telah terjadi, tetapi juga mampu melakukan pencegahan dan deteksi dini. Salah satu solusi yang dapat dikembangkan adalah Platform Laporan Digital dan Pusat Kesehatan Mental Terintegrasi yang menghubungkan layanan pendampingan kesehatan mental dari jenjang Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) hingga perguruan tinggi secara berkelanjutan.
Platform ini dirancang sebagai sistem digital yang memungkinkan peserta didik melakukan pemantauan kondisi psikologis secara berkala sekaligus memperoleh akses terhadap layanan kesehatan mental. Integrasi tersebut diharapkan dapat menciptakan sistem pendampingan yang mudah diakses dan berkesinambungan. Platform ini memiliki dua fitur utama, yaitu:
1. Pelaporan Anonim dan Early Warning System (EWS)
Melalui fitur ini, peserta didik dapat melakukan self-assessment atau penilaian mandiri mengenai kondisi stres dan kelelahan akademik secara berkala. Sistem ini dirancang dengan mekanisme perlindungan identitas sehingga pengguna dapat menyampaikan kondisi yang dialami tanpa harus merasa takut terhadap stigma sosial maupun kebocoran informasi pribadi.
Data hasil self-assessment kemudian dianalisis oleh sistem berdasarkan sejumlah indikator yang berkaitan dengan kondisi kognitif, emosional, dan fisik. Berdasarkan hasil tersebut, sistem dapat mengelompokkan tingkat risiko academic burnout ke dalam kategori tertentu, misalnya risiko rendah, sedang, dan tinggi.






























