Beliau juga menegaskan bahwa pembelajaran KIK harus lebih berorientasi pada praktik dan proyek nyata, bukan hanya teori, serta dapat diperkuat melalui penerapan Teaching Factory (TEFA). Guru dituntut untuk terus kreatif dan inovatif sehingga mampu menularkan semangat tersebut kepada siswa dan melahirkan lulusan yang siap berkarya maupun berwirausaha.
Namun demikian, terdapat sejumlah tantangan yang perlu dihadapi, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia yang harus terus ditingkatkan kompetensinya, pentingnya kolaborasi dengan para founder wirausaha, hingga persaingan bisnis yang semakin ketat. Oleh karena itu, siswa perlu dibekali strategi, keberanian mengambil risiko, serta pola pikir inovatif agar mampu bertahan dan berkembang di dunia kewirausahaan.
Materi kedua disampaikan oleh Zulfikar Reza Fauzi S.E.,M.M, Project Manager Chlorine Digital Media, yang menyoroti pentingnya kolaborasi industri dalam penerapan mikrokredensial. Ia menjelaskan bahwa mikrokredensial merupakan kompetensi-kompetensi spesifik dalam skema Kewirausahaan Digital yang dirancang sesuai kebutuhan dunia kerja, sehingga sangat relevan untuk diperkenalkan sejak siswa masih berada di bangku sekolah.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan hanya memahami konsep, tetapi juga mengaplikasikannya. Hal ini membutuhkan kerja sama erat antara guru KIK dan guru produktif. Guru KIK diharapkan dapat berperan sebagai penggerak utama dalam pemasaran produk Teaching Factory, sehingga kolaborasi tidak hanya terjadi antara sekolah dan industri, tetapi juga antar guru serta perguruan tinggi.
