Konsep ini sejalan dengan teori collective memory Maurice Halbwachs (1992) yang menjelaskan bahwa identitas kelompok dibangun melalui ingatan sosial yang diwariskan secara kolektif lintas generasi.
Dukungan terhadap Persib bukan sekadar preferensi olahraga, melainkan hasil internalisasi budaya yang berlangsung dalam keluarga, lingkungan sosial, dan kehidupan keseharian masyarakat Sunda.
Karena itu, menjadi bobotoh sering kali tidak lahir dari keputusan individual yang rasional, tetapi dari proses sosial yang diwariskan. Dalam istilah Pierre Bourdieu (1984), kondisi ini dapat dipahami melalui konsep habitus, yaitu struktur nilai dan kebiasaan yang tertanam dalam kehidupan masyarakat sehingga membentuk cara berpikir dan bertindak secara alami.
Habitus kebudayaan Persib telah hidup sangat lama di Bandung. Euforia konvoi, atribut biru, hingga solidaritas antar-bobotoh merupakan ekspresi simbolik dari identitas kolektif yang telah melembaga secara sosial.
Sebaliknya, fenomena event lari urban di Bandung merupakan gejala sosial yang relatif baru.
