Fenomena ini juga diperkuat oleh teori urban identity resilience dari Manuel Castells (2020) yang menjelaskan bahwa masyarakat kota cenderung mempertahankan simbol budaya lokal ketika berhadapan dengan penetrasi budaya global yang dianggap terlalu artifisial atau tidak merepresentasikan identitas asli kota.
Dalam konteks Bandung, Persib merupakan simbol budaya lokal yang tumbuh secara organik dari masyarakatnya sendiri. Sedangkan event lari urban lebih banyak dipandang sebagai kultur gaya hidup metropolitan yang datang mengikuti arus tren global.
Teori place attachment dalam kajian urban kontemporer (Lewicka, 2021) juga menjelaskan bahwa masyarakat akan memiliki toleransi sosial lebih tinggi terhadap aktivitas yang dianggap merepresentasikan identitas tempat dan keterikatan emosional terhadap ruang hidup mereka.
Karena itu, ketika bobotoh turun ke jalan merayakan Persib, masyarakat Bandung tidak semata-mata melihat kemacetan. Mereka melihat ekspresi rasa memiliki terhadap kota dan identitas kolektif mereka sendiri.
Sebaliknya, event lari urban belum memiliki kedalaman emosional yang sama dalam memori sosial masyarakat Bandung.
