Selain itu, argumentasi bahwa event lari mampu meningkatkan ekonomi kota juga perlu dibaca secara lebih kritis dan akademik. Hingga saat ini belum terdapat penelitian komprehensif yang menunjukkan bahwa event lari memberikan kontribusi signifikan dan berkelanjutan terhadap ekonomi Kota Bandung secara struktural.
Sebagian besar dampak ekonomi event lari masih bersifat jangka pendek dan temporer, seperti peningkatan okupansi hotel atau konsumsi kuliner selama acara berlangsung. Namun biaya sosial seperti kemacetan, disrupsi aktivitas warga, hingga penggunaan ruang publik belum banyak dihitung secara serius.
Di sisi lain, perlu ditegaskan bahwa persoalan utama sebenarnya bukan terletak pada warga Bandung ataupun para pelari. Konflik sosial ini lebih banyak muncul akibat lemahnya tata kelola event dan kurang sensitifnya penyelenggara terhadap karakter budaya Kota Bandung.
Bandung adalah kota dengan identitas sosial yang sangat kuat terhadap Persib. Karena itu, setiap event publik seharusnya mempertimbangkan aspek historis, kultur masyarakat, pola mobilitas warga, hingga sensitivitas ruang sosial kota. Ketika manajemen event tidak mampu mengelola ruang publik secara baik, maka masyarakatlah yang akhirnya saling dibenturkan.
