“Edukasi dan latihan seperti ini sangat penting. Anak-anak perlu tahu apa yang harus dilakukan ketika bencana terjadi. Tahun depan, kami sudah minta BPBD agar program seperti ini digelar secara bergilir di semua sekolah,” ujar Adhitia.
Ia menambahkan, Cimahi termasuk wilayah dengan potensi gempa akibat aktivitas Sesar Lembang serta ancaman bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor. Karena itu, edukasi kebencanaan menjadi hal yang wajib dilakukan sejak dini. Menurutnya dalam mengelola resiko terjadinya bencana, yang paling penting adalah kesiapan.
Mengenai mitigasi bencana, Adhitia menyebutkan, selain memastikan seluruh warga teredukasi mengenai kesiapsiagaan bencana, penting bagi pemerintah daerah untuk memastikan keamanan gedung-gedung publik agar tahan bencana.
“Yang paling utama adalah edukasi, memastikan setiap orang paham apa yang harus dilakukan bilamana terjadi bencana, yang kedua, simulasi dan latihan lalu yang ketiga, baru nanti masuk ke aspek yang lebih teknis lagi, yang kaitan dengan tata bangunan dan lain sebagainya, bagaimana bangunan itu adalah bangunan yang siap atau tahan terjadinya gempa dan lain sebagainya,” tandasnya.
Senada dengan Wakil Wali Kota, Kepala Pelaksana BPBD Cimahi, Fithriandy Kurniawan, menegaskan bahwa sekolah merupakan tempat yang paling rentan ketika bencana terjadi karena menampung banyak anak-anak yang membutuhkan perlindungan lebih. Oleh sebab itu, pendidikan kebencanaan harus menjadi bagian dari proses belajar mengajar.
