Sayangnya, meskipun khasiatnya besar, pemanfaatan TOGA belum menjadi pilihan utama masyarakat. Gaya hidup serba cepat dan budaya instan membuat banyak orang lebih memilih obat kemasan yang tersedia di apotek. Proses pengolahan TOGA yang dianggap merepotkan, mulai dari pencucian, pemotongan, hingga perebusan, menjadi alasan utama masyarakat enggan memanfaatkannya.
“Padahal banyak dari kita tidak sadar bahwa tanaman yang tumbuh di halaman rumah bisa menjadi pertolongan pertama ketika merasa tidak sehat. Dan yang lebih penting, TOGA relatif aman,” imbuhnya.
TOGA tidak dimaksudkan untuk menggantikan pengobatan medis, melainkan sebagai pelengkap. Ramuan herbal dari TOGA bisa dikonsumsi bersamaan dengan obat kimiawi, asalkan diberi jeda sekitar empat jam agar penyerapan tidak terganggu.
Lebih dari itu, TOGA juga menyimpan potensi ekonomi. Jika diolah lebih lanjut menjadi produk seperti serbuk jahe instan atau jamu kemasan, tanaman-tanaman ini bisa bernilai jual tinggi dan berkontribusi pada pendapatan keluarga maupun pelaku UMKM.
























