Kita berbicara kemandirian, tetapi dengan ruang fiskal yang belum benar-benar memerdekakan desa.
Masih banyak desa yang ingin membangun ini dan itu, tetapi tersandera oleh prioritas yang sudah ditentukan dari atas.
Apakah desa boleh memilih prioritas sesuai kebutuhan lokal? Boleh. Tetapi tetap saja ada batasan-batasan yang membuat desa “merdeka secara teori, terikat secara praktik”.
4. Euforia Peringatan Hari Desa: Perlukah atau Justru Menyakitkan?
Pada satu sisi, peringatan hari desa adalah momen penting untuk mengingatkan negara bahwa desa adalah fondasi bangsa. Namun pada sisi lain, euforia berlebihan terasa janggal ketika desa justru masih harus berjuang keras untuk merdeka dalam mengelola dirinya sendiri.
Hari Desa seharusnya bukan sekadar pesta simbolik, tetapi: momentum merefleksikan relasi desa–pemerintah di semua tingkatan, evaluasi sejauh mana regulasi berpihak pada desa, ajakan untuk mengembalikan kepercayaan dan kewenangan ke desa,
seruan memperkuat perlindungan hukum bagi kepala desa dan perangkatnya, kesadaran bahwa desa bukan objek laporan, tapi subjek pembangunan.
Peringatan tanpa perubahan hanya akan menjadi seremoni yang penuh slogan tetapi kosong makna.
5. Kemerdesaan Desa Harus Diperjuangkan, Bukan Dirayakan
Hari ini, banyak kepala desa dan masyarakatnya justru merindukan sesuatu yang dulu pernah mereka miliki: keleluasaan untuk menentukan masa depan desa sendiri.



























