Menu

Mode Gelap
Mahasiswa INU Ciamis Desak Penelusuran Dugaan Intimidasi dan Kebocoran Informasi Aksi Demonstrasi STIKOM Bandung Dorong Mahasiswa Adaptif di Era Disrupsi Digital Lewat STIKOM Expo 2026 Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi Gelar Konferensi Pers Terkait Rebranding RSUD Cibabat GAUL 2026 Hadirkan Kolaborasi Ekonomi Kreatif, Film Ra.ha.yu Jadi Simbol Sinergi Lintas Sektor IRPRO 2026 Sukses Digelar di Bandung, Satukan Peneliti Muda dari 12 Negara dalam Ajang Inovasi Global Disdikbud Kabupaten Subang Laksanakan Uji Kompetensi Guru, Kasubag Umpeg Turut Awasi Pelaksanaan di SMPN 4 Subang

Artikel

Di Tengah Hilangnya Kemerdesaan, Masih Perlukah Euforia Peringatan Hari Desa?

badge-check

Di Tengah Hilangnya Kemerdesaan, Masih Perlukah Euforia Peringatan Hari Desa? Perbesar

Kita berbicara kemandirian, tetapi dengan ruang fiskal yang belum benar-benar memerdekakan desa.

Masih banyak desa yang ingin membangun ini dan itu, tetapi tersandera oleh prioritas yang sudah ditentukan dari atas.

Apakah desa boleh memilih prioritas sesuai kebutuhan lokal? Boleh. Tetapi tetap saja ada batasan-batasan yang membuat desa “merdeka secara teori, terikat secara praktik”.

4. Euforia Peringatan Hari Desa: Perlukah atau Justru Menyakitkan?

Pada satu sisi, peringatan hari desa adalah momen penting untuk mengingatkan negara bahwa desa adalah fondasi bangsa. Namun pada sisi lain, euforia berlebihan terasa janggal ketika desa justru masih harus berjuang keras untuk merdeka dalam mengelola dirinya sendiri.

Hari Desa seharusnya bukan sekadar pesta simbolik, tetapi: momentum merefleksikan relasi desa–pemerintah di semua tingkatan, evaluasi sejauh mana regulasi berpihak pada desa, ajakan untuk mengembalikan kepercayaan dan kewenangan ke desa,
seruan memperkuat perlindungan hukum bagi kepala desa dan perangkatnya, kesadaran bahwa desa bukan objek laporan, tapi subjek pembangunan.

Peringatan tanpa perubahan hanya akan menjadi seremoni yang penuh slogan tetapi kosong makna.

5. Kemerdesaan Desa Harus Diperjuangkan, Bukan Dirayakan

Hari ini, banyak kepala desa dan masyarakatnya justru merindukan sesuatu yang dulu pernah mereka miliki: keleluasaan untuk menentukan masa depan desa sendiri.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Koreksi terhadap Kebijakan Pendidikan di Jabar Tentang Sekolah Maung

14 Juni 2026 - 15:00 WIB

Konsumsi 4 Asupan Ini agar Tetap Sehat Pasca Idul Adha

28 Mei 2026 - 23:01 WIB

Persib sebagai Identitas Historis Bandung

20 Mei 2026 - 10:00 WIB

PASASA PATREM 2026 (Ngaraksa Aksara, Nyuburkeun Rasa di Lembur Organik Cikancung)

11 Mei 2026 - 14:00 WIB

FKSS Jabar: Sekolah Maung Berpotensi Menciptakan Diskriminatif dalam Dunia Pendidikan

27 April 2026 - 11:00 WIB

Trending di Artikel