SAMBAS MEDIA, BANDUNG – Kontroversi ucapan YouTuber Resbob yang diduga menghina suporter Viking dan menyebut identitas Sunda dengan kalimat bernada merendahkan kembali memantik reaksi keras dari berbagai pihak. Tidak hanya publik dan tokoh masyarakat, kalangan akademisi pun mulai angkat suara.
Salah satu yang memberikan sikap tegas adalah Muhammad Yusuf, Direktur Politeknik Praktisi Bandung.
Dalam wawancara khusus bersama redaksi, Jum’at (12/12/2025), Yusuf menilai ucapan Resbob bukan sekadar luapan emosi sesaat, melainkan bentuk ujaran kebencian berbasis identitas etnis yang berpotensi menimbulkan dampak sosial serius.
“Sebagai Akademisi dan Bobotoh, Saya Mengecam Keras.”
Dalam pernyataannya, Yusuf menyebut bahwa apa yang disampaikan Resbob telah melewati batas toleransi berpendapat di ruang digital.
“Sebagai akademisi, sebagai orang Bandung, dan sebagai bobotoh, saya mengecam keras ucapan tersebut.
Pernyataan itu jelas menghina harkat masyarakat Sunda dan martabat komunitas bobotoh yang selama ini dikenal solid, menjunjung etika, dan tidak pernah menganggu orang lain” tegasnya.
Ia menilai Resbob bukan hanya menyerang kelompok suporter tertentu, tetapi juga menyentuh identitas budaya yang dijunjung tinggi masyarakat Sunda.
Kajian Ilmiah: Ucapan Resbob Masuk Kategori Ujaran Kebencian.
Dalam perspektif ilmiah, Yusuf menjelaskan bahwa ujaran yang menghina kelompok etnis memiliki konsekuensi sosial yang jauh lebih luas daripada sekadar konten hiburan.

















DFir





