Menu

Mode Gelap
Mahasiswa INU Ciamis Desak Penelusuran Dugaan Intimidasi dan Kebocoran Informasi Aksi Demonstrasi STIKOM Bandung Dorong Mahasiswa Adaptif di Era Disrupsi Digital Lewat STIKOM Expo 2026 Pemerintah Kota (Pemkot) Cimahi Gelar Konferensi Pers Terkait Rebranding RSUD Cibabat GAUL 2026 Hadirkan Kolaborasi Ekonomi Kreatif, Film Ra.ha.yu Jadi Simbol Sinergi Lintas Sektor IRPRO 2026 Sukses Digelar di Bandung, Satukan Peneliti Muda dari 12 Negara dalam Ajang Inovasi Global Disdikbud Kabupaten Subang Laksanakan Uji Kompetensi Guru, Kasubag Umpeg Turut Awasi Pelaksanaan di SMPN 4 Subang

Artikel

Dolar Naik, Rupiah Tersungkur; Siapa yang Sebenarnya Mengkhianati Ekonomi Nasional?

badge-check

Dolar Naik, Rupiah Tersungkur; Siapa yang Sebenarnya Mengkhianati Ekonomi Nasional? Perbesar

Kedua: Hilirisasi mineral dan industri berbasis sumber daya domestik.

Ini adalah penanda perubahan paradigma: dari ekonomi berbasis impor dan bahan mentah, menjadi ekonomi berbasis produksi nasional dan ekspor bernilai tambah. Hilirisasi nikel, bauksit, tembaga—ini semua bukan sekadar proyek industri. Ini adalah benteng nilai tukar. Ketika nilai tambah diproduksi di dalam negeri, permintaan dolar untuk impor intermediate berkurang drastis. Neoliberalisme membenci hilirisasi karena ia memotong rantai pasok global yang selama ini membuat negara berkembang permanen sebagai pemasok murah.

Ketiga: Transformasi energi dan kemandirian energi nasional.

Program B35/B40, pembangunan kilang, peningkatan lifting migas, serta perluasan energi hijau domestik adalah strategi langsung untuk menurunkan kebutuhan impor minyak dan gas. Mengurangi impor energi berarti memotong salah satu sumber tekanan terbesar terhadap rupiah. Neolib selalu menempatkan energi nasional sebagai komoditas pasar, bukan sebagai infrastruktur kedaulatan. Pemerintah hari ini justru membalikkan logika itu.

Keempat: Danantara dan arsitektur pembiayaan pembangunan yang tidak tunduk pada modal asing portofolio.

Danantara adalah langkah strategis untuk membangun kapasitas pembiayaan nasional yang berbasis modal domestik. Ini berarti Indonesia tidak perlu menadahkan tangan pada volatilitas dana asing jangka pendek. Program ini memperkuat ruang fiskal, mengurangi dominasi asing di pasar SBN, dan secara langsung memperkecil kerentanan rupiah terhadap capital outflow.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Koreksi terhadap Kebijakan Pendidikan di Jabar Tentang Sekolah Maung

14 Juni 2026 - 15:00 WIB

Konsumsi 4 Asupan Ini agar Tetap Sehat Pasca Idul Adha

28 Mei 2026 - 23:01 WIB

Persib sebagai Identitas Historis Bandung

20 Mei 2026 - 10:00 WIB

PASASA PATREM 2026 (Ngaraksa Aksara, Nyuburkeun Rasa di Lembur Organik Cikancung)

11 Mei 2026 - 14:00 WIB

FKSS Jabar: Sekolah Maung Berpotensi Menciptakan Diskriminatif dalam Dunia Pendidikan

27 April 2026 - 11:00 WIB

Trending di Artikel