Menjawab Fragmentasi Pendidikan Film dan Broadcasting
Firdaus mengatakan, salah satu tantangan pendidikan film dan broadcasting di daerah adalah belum optimalnya integrasi antara pengajaran, riset, dan praktik industri. Kondisi tersebut, menurut dia, membuat pengembangan keilmuan kerap berjalan terpisah dari dinamika profesional.Ia menilai jurnal ilmiah dapat menjadi instrumen untuk menjembatani kesenjangan tersebut. Melalui publikasi yang dikelola secara profesional dan konsisten, gagasan akademik dapat terdokumentasi sekaligus menjadi rujukan bagi pengembangan industri kreatif.
“Jurnal bukan sekadar tempat menerbitkan artikel, tetapi bagian dari upaya menjaga standar dan arah pengembangan ilmu,” katanya.
Dalam kebijakan pendidikan tinggi, publikasi ilmiah menjadi salah satu indikator kinerja dosen dan institusi. Namun, Firdaus mengingatkan peningkatan jumlah artikel perlu diimbangi penguatan sistem dan tata kelola yang transparan.Ia menekankan pentingnya standar editorial yang jelas serta proses penelaahan sejawat (peer review) yang akuntabel sebagai fondasi mutu akademik.
Membangun Daya Saing Regional
Firdaus menilai Jawa Barat memiliki potensi sebagai pusat pendidikan film dan broadcasting. Hal itu didukung banyaknya perguruan tinggi dan sekolah vokasi, serta pertumbuhan sektor media dan produksi konten.
Namun, menurut dia, potensi tersebut perlu ditopang infrastruktur akademik yang memadai.
