Oleh: Dr. Rd Ahmad Buchari, S.IP., M.Si
SAMBAS MEDIA – H.O.S. Cokroaminoto bukan sekadar tokoh sejarah, melainkan pemikir peradaban. Gagasannya memadukan etika Islam, nasionalisme, dan keberpihakan sosial, sehingga melampaui zamannya dan tetap bernapas segar dalam konteks disrupsi hari ini.
Cokroaminoto menekankan zelfbestuur -kemandirian berpikir dan bertindak. Dalam bahasa kontemporer, ini adalah literasi kritis dan self-leadership, fondasi utama manusia produktif di tengah banjir informasi dan teknologi.
Pendidikan, bagi Cokroaminoto, adalah pembebasan. Sejarawan Sartono Kartodirdjo menilai pendidikan gerakan awal abad ke-20 sebagai mesin kesadaran sosial; di sinilah pendidikan Islam menemukan perannya sebagai transformasi, bukan sekadar transmisi.
Etika kerja dan keadilan sosial menjadi poros. Cokroaminoto memadukan iman dan amal publik-sejalan dengan analisis George McTurnan Kahin tentang nasionalisme Indonesia yang berakar pada moralitas kolektif, bukan sekadar politik kekuasaan.




















DFir





