Menu

Mode Gelap
Pos Bindu “Mawar Bodas” Perumnas Cijerah 1 RW 05 Milad Ke-19 Wujudkan Lansia Bahagia STEBI BINA ESSA Gandeng Proskill Entrepreneur Academy, Bekali Mahasiswa Keterampilan Public Speaking DPP XTC Indonesia Gelar Rapat Kerja Awal Tahun, Perkuat Evaluasi dan Strategi Organisasi Silaturahmi dan Rembug Warga RW 05 Cijerah Ruang Aspirasi Program Musrenbang dan Prakarsa 2026 Ketum LSM Inakor Dukung Anggaran 92 M di DPRD Kota Cimahi XTC Indonesia Gelar Konsolidasi Nasional, Mantapkan Transformasi Organisasi Menuju Generasi Emas 2045

Artikel

Dari ‘Atuda…’ Menjadi ‘Sanajan…’ Transformasi Semangat Warga Jawa Barat Mencari Solusi

badge-check


Agus Nugroho, Penyuka pagi dan Jalan kaki Perbesar

Agus Nugroho, Penyuka pagi dan Jalan kaki

Oleh: Agus Nugroho
Penyuka pagi dan Jalan kaki

SAMBAS MEDIA – Berawal dari pidato penyemangat Pak Sekda Jabar Pak Herman Suryatman, yang memotivasi seluruh ASN Jabar, saya tergelitik untuk menguraikannya secara lebih dalam tentang judul diatas.

Di berbagai sudut kampung, kota, dan lembur di Jawa Barat, sering kali terdengar ungkapan yang terasa sangat akrab di telinga: “Atuda…”– sebuah kata yang mencerminkan alasan, keraguan, atau bahkan ketidakberdayaan. “Atuda can siap…”, “Atuda loba tangtangan…”, atau “Atuda moal bisa…”* adalah contoh frasa yang sering meluncur secara spontan saat seseorang menghadapi kesulitan. Meskipun terasa wajar, jika terus-menerus dijadikan pembuka kalimat, ungkapan ini bisa menjadi penghalang besar bagi perubahan positif.

Kebiasaan memulai segala hal dengan alasan bisa menjadi semacam jebakan mental yang membuat kita diam di tempat. Tanpa disadari, pola pikir ini tumbuh dalam kehidupan sehari-hari, dalam percakapan keluarga, diskusi masyarakat, bahkan dalam ruang pembelajaran dan pemerintahan. Bila dibiarkan, budaya ini bisa mengendap menjadi mentalitas “alus dina omong, hésé dina lampah,” yaitu piawai dalam beralasan namun enggan bergerak menghadapi kenyataan.

Namun, warga Jawa Barat memiliki kekuatan tersendiri yang tidak bisa diremehkan: daya tahan dan nilai-nilai kearifan lokal yang penuh dengan kesabaran, gotong royong, dan tekad baja. Dalam semangat itu, muncul gerakan perubahan mental yang kini mulai digaungkan: mengganti kata “Atuda…” dengan “Sanajan…”. Sebuah pergeseran sederhana dalam berbahasa, tapi besar dalam dampaknya pada pola pikir.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ketum LSM Inakor Dukung Anggaran 92 M di DPRD Kota Cimahi

12 Januari 2026 - 13:20 WIB

Cokroaminoto Kini

3 Januari 2026 - 13:37 WIB

Refleksi Akhir Tahun 2025, Cermin Perbaikan Sistem Bernegara

27 Desember 2025 - 13:27 WIB

10 Peneliti Terbaik di Indonesia pada Bidang Business & Management Versi AD Scientific Index 2025, Direktur Politeknik Praktisi Peringkat ke -7

6 Desember 2025 - 09:00 WIB

Generasi Tua Mewariskan Bencana Alam, Bencana Sosial dan Moral, Generasi Muda Memikul beban Kerusakan

1 Desember 2025 - 21:22 WIB

Trending di Artikel