Menu

Mode Gelap
Pisah Sambut Kajati Jabar 2026, Wujudkan Keberlanjutan Kinerja dan Integritas Institusi Penyerahan SK Pengangkatan PNS dan Pengambilan Sumpah/Janji PNS Surat Edaran KPK dalam Pencegahan Korupsi dan Pungli di SPMB 150 Siswa SMA Jabar Pulang Bawa Karakter Baru BGN Libatkan Sekolah dan Pemda Perkuat Validasi Data Penerima Makan Bergizi Gratis Eat Grill.id Hadir di Bandung, Tawarkan Konsep AYCE dengan Pelayanan Setara dan Makan Sepuasnya

Artikel

Dari ‘Atuda…’ Menjadi ‘Sanajan…’ Transformasi Semangat Warga Jawa Barat Mencari Solusi

badge-check

Agus Nugroho, Penyuka pagi dan Jalan kaki Perbesar

Agus Nugroho, Penyuka pagi dan Jalan kaki

Budaya “Sanajan…” juga sangat selaras dengan filosofi hidup Sunda yang menjunjung nilai “someah hade ka semah,” “silih asah, silih asih, silih asuh,” dan “tata titi, tatanen jeung tutuwuhan.” Semua nilai ini menekankan bahwa dalam kondisi apapun, orang Sunda diajarkan untuk tetap kuat, lemah lembut, dan adaptif terhadap perubahan. “Sanajan digoyang ku angin zaman, urang ulah rubuh, sabab akar budaya urang jero jeung kuat.”

Di lingkungan masyarakat, penerapan semangat ini bisa sangat terasa dalam kegiatan gotong royong. Misalnya, saat membangun jalan kampung, jangan mulai dengan alasan: “Atuda teu aya dana ti pusat,” tapi ganti dengan, “Sanajan can aya bantuan, urang bisa ngamimitian jeung swadaya.” Semangat seperti ini akan mendorong partisipasi aktif, mempererat hubungan sosial, dan membangun rasa kepemilikan yang kuat terhadap lingkungan sekitar.

Bagi generasi muda, “Sanajan…” adalah simbol keberanian dan daya juang. Di tengah persaingan global dan tantangan dunia kerja yang semakin kompleks, pemuda Jawa Barat bisa mengucapkan dengan bangga: “Sanajan kuring asal ti lembur leutik, abdi tiasa nyieun inovasi nu bisa mangpaat pikeun balaréa.” Kalimat ini tidak hanya memotivasi diri, tapi juga memberi inspirasi bagi sesama.

Di ranah spiritual, semangat “Sanajan…” sangat erat dengan nilai ketawakalan dan keimanan. “Sanajan diuji ku kaayaan, abdi yakin Gusti moal salah maparin cobaan.” Dengan cara ini, masyarakat Jawa Barat tidak hanya diajak untuk kuat secara lahir, tapi juga tangguh secara batin. Dalam segala keterbatasan, tetap ada cahaya harapan yang dijaga dengan doa dan kerja keras.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konsumsi 4 Asupan Ini agar Tetap Sehat Pasca Idul Adha

28 Mei 2026 - 23:01 WIB

Persib sebagai Identitas Historis Bandung

20 Mei 2026 - 10:00 WIB

PASASA PATREM 2026 (Ngaraksa Aksara, Nyuburkeun Rasa di Lembur Organik Cikancung)

11 Mei 2026 - 14:00 WIB

FKSS Jabar: Sekolah Maung Berpotensi Menciptakan Diskriminatif dalam Dunia Pendidikan

27 April 2026 - 11:00 WIB

Ti Jepara ka Mancanagara

21 April 2026 - 09:48 WIB

Trending di Artikel