Menu

Mode Gelap
BGN Libatkan Sekolah dan Pemda Perkuat Validasi Data Penerima Makan Bergizi Gratis Eat Grill.id Hadir di Bandung, Tawarkan Konsep AYCE dengan Pelayanan Setara dan Makan Sepuasnya YELLO Hotel Paskal Bandung Perkenalkan Paket Wedding, Ulang Tahun, dan Table Manner dengan Konsep Kekinian Sosialisasi SPMB Tahun Ajaran 2026/2027 Wilayah 4 Disdik Kabupaten Bandung Enam Terduga Pelaku Perundungan Siswi di Tana Toraja Diamankan Polisi ibis Bandung Trans Studio Tawarkan Paket Liburan Sekolah Lengkap dengan Tiket Trans Studio Bandung

Artikel

Ekonomi Tak Pulih Cepat? Justru di Sini Neoliberalisme Ketahuan Busuk

Perbesar

  • Menciptakan opini pesimistis tentang pertumbuhan ekonomi untuk menekan sentimen publik.
  • Menggembosi keberhasilan aturan pengetatan fiskal sebagai rezim yang ‘anti-pertumbuhan’.
  • Menyerang kebijakan industrialisasi seolah negara harus tunduk pada impor dan liberalisasi tanpa kontrol.
  • Menebarkan narasi chaos fiskal untuk memaksa pemerintah kembali mengadopsi resep lama yang gagal.
  • Ini adalah bukan sekadar debat ekonomi teknis; ini adalah upaya sabotase terhadap kebijakan nasional yang ingin mengubah tatanan lama demi kedaulatan ekonomi bangsa.

Mandat Politik Presiden

Posisi Purbaya bukanlah semata pilihan teknokratis; ia adalah bagian dari implementasi visi Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan kedaulatan ekonomi sebagai pilar utama dalam pembangunan nasional. Dalam pidato kenegaraan 15 Agustus 2025, Presiden Prabowo menegaskan arah fundamental pembangunan ekonomi dengan referensi konstitusional yang tegas:

“Ketika kita tidak konsekuen menjalankan Undang-Undang Dasar kita, terjadilah distorsi ekonomi … perekonomian nasional diselenggarakan berdasarkan demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian … dan ketika kita konsekuen menjalankan Undang-Undang Dasar kita … kita dapat mencapai berbagai kemajuan yang cukup berarti.”

Keberpihakan ini jelas menegaskan bahwa arah kebijakan fiskal dan pembangunan ekonomi yang tengah ditempuh bukanlah pilihan pragmatis semata, tetapi literal implementasi dari mandat ideologis bangsa sesuai amanat konstitusi.

Menghadapi Sabotase Neoliberalisme

Neoliberalisme telah gagal menjadikan pertumbuhan yang inklusif. Selama lebih dari dua dekade, pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak pernah berjalan seiring dengan pemerataan kesejahteraan. Distribusi kekayaan tetap timpang, sementara ketergantungan pada modal asing dan jaringan rente terus memperlemah daya saing nasional.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Konsumsi 4 Asupan Ini agar Tetap Sehat Pasca Idul Adha

28 Mei 2026 - 23:01 WIB

Persib sebagai Identitas Historis Bandung

20 Mei 2026 - 10:00 WIB

PASASA PATREM 2026 (Ngaraksa Aksara, Nyuburkeun Rasa di Lembur Organik Cikancung)

11 Mei 2026 - 14:00 WIB

FKSS Jabar: Sekolah Maung Berpotensi Menciptakan Diskriminatif dalam Dunia Pendidikan

27 April 2026 - 11:00 WIB

Ti Jepara ka Mancanagara

21 April 2026 - 09:48 WIB

Trending di Artikel
Exit mobile version