Banyak dari mereka tampak tidak peduli bagaimana kelak nasib anak dan cucunya, seolah masa depan generasi berikut bukan lagi prioritas moral. Bahkan sebagian dari mereka dengan rasa bangga dan tanpa rasa malu maracuni dan memberikan contoh nyata kepada generasi muda dalam melakukan kerusakan lingkungan, praktik suap, pungli, curang, mark up, dan perilaku koruptif lainnya
Lebih ironis lagi, sebagian generasi tua lainnya justru lebih sering mengeluh dan menghujat. Mereka mencaci pihak lain sebagai penyebab kerusakan, tapi disisi lain mereka sebenarnya sebenarnya turut berperan dalam menciptakan kondisi kerusakan tersebut. Mereka mengecam segala bentuk kebusukan, tetapi pada saat yang sama tak ragu melakukan praktik-praktik kotor yang memperburuk keadaan, melakukan perilaku koruptif, manipulasi, dan keputusan-keputusan yang hanya menguntungkan diri sendiri.
Jika generasi tua terus mempertahankan kenyamanan, dan menolak tanggung jawab moral, maka sejarah akan mencatat bukan sebagai penjaga masa depan, melainkan sebagai generasi yang meninggalkan beban berat kepada penerusnya.
Keteladan generasi tua akan jadi harapan bagi generasi muda. Beranikah generasi tua berdiri di garis depan melawan dan memutus rantai praktik-praktik korupsi yang sudah mengakar??*
(Red)

























