Menu

Mode Gelap
Ekonomi Tak Pulih Cepat? Justru di Sini Neoliberalisme Ketahuan Busuk Di Sela Sidang Terbuka UNPAR, Rektor UKMC Jajaki Kerja Sama International Conference dengan Politeknik Praktisi Bandung AstraVera Edu Fair SMAN 11 Bandung Bersinar untuk Mengubah Terang untuk Menginspirasi Pos Bindu “Mawar Bodas” Perumnas Cijerah 1 RW 05 Milad Ke-19 Wujudkan Lansia Bahagia STEBI BINA ESSA Gandeng Proskill Entrepreneur Academy, Bekali Mahasiswa Keterampilan Public Speaking DPP XTC Indonesia Gelar Rapat Kerja Awal Tahun, Perkuat Evaluasi dan Strategi Organisasi

Organisasi

Menyulam Asa di Muara Komam, Transmigrasi Sebagai Koridor Ekonomi Baru Indonesia

badge-check


Menyulam Asa di Muara Komam, Transmigrasi Sebagai Koridor Ekonomi Baru Indonesia Perbesar

SAMBAS MEDIA, KALIMANTAN TIMUR – Suasana di Desa Sekuan Makmur, Kecamatan Muara Komam, pagi itu berbeda dari biasanya. Sejumlah mahasiswa dengan rompi berlogo Ekspedisi Patriot tampak sibuk berdialog dengan petani dan peternak setempat. Sebagian mengamati lahan, mencatat jenis tanaman, dan memotret kondisi kandang sapi. Inilah potret dari sebuah program besar yang digagas Kementerian Transmigrasi bersama tujuh perguruan tinggi negeri ternama: Universitas Indonesia, IPB, ITB, UGM, Undip, Unpad, dan ITS.

Muara Komam menjadi salah satu dari 154 titik ekspedisi yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan akademis, melainkan upaya serius untuk membaca denyut kehidupan masyarakat transmigrasi dan menata ulang strategi pengembangan kawasan. Program ini mengusung slogan: “Patriot Berkarya, Bangsa Berjaya” sebuah pesan bahwa transmigrasi tak boleh dipandang sebagai program lama yang usang, melainkan sebagai koridor ekonomi baru Indonesia.

Koordinasi bersama Kapolres Paser AKBP. H. Novy Adi Wibowo, SIK., M.H.

Sejak awal dibuka, Muara Komam dikenal sebagai wilayah transmigrasi dengan basis peternakan sapi. Warga mendapat lahan dan hewan ternak untuk dikelola. Namun seiring waktu, pola usaha masyarakat berkembang. Dari ternak sapi, warga beralih pada perkebunan karet, lalu sawit, bahkan mencoba hortikultura seperti terong, tomat, jagung, dan kacang tanah.

Sayangnya, perjalanan tidak selalu mulus. Program bantuan bawang merah pernah gagal akibat bibit yang salah. Banyak pula masalah tanah lahan yang hingga kini masih berstatus HPL, sehingga warga sulit mendapat sertifikat. Dari 200 pengajuan PTSL, hanya 30 yang tembus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

DPP XTC Indonesia Gelar Rapat Kerja Awal Tahun, Perkuat Evaluasi dan Strategi Organisasi

13 Januari 2026 - 09:23 WIB

XTC Indonesia Gelar Konsolidasi Nasional, Mantapkan Transformasi Organisasi Menuju Generasi Emas 2045

10 Januari 2026 - 19:00 WIB

Bupati Jeje dan Gubernur KDM segera Turun, Rencana Gerai KMP di SMPN 1 Sindangkerta Sebaiknya Dibatalkan

27 Desember 2025 - 21:23 WIB

LAKI KBB Layangkan Surat Desak Kejari Segera Tuntaskan Dugaan Korupsi Oknum Kadis

17 Desember 2025 - 10:30 WIB

 Jenderal TNI (Purn) Dudung Resmi Jabat Ketua Dewan Pembina LSM GMBI

26 November 2025 - 22:40 WIB

Trending di Organisasi