Menu

Mode Gelap
Wakil Wali Kota Bandung Ajak Warga Jadikan Tahun Baru Islam Sebagai Momentum Hijrah dan Muhasabah SMKS Bandung Barat Gelar Pelantikan Calon Bantara Ciptakan Karakter Kuat dan Cerdas Rangkaian Menyambut HUT POLRI, Polsek Bandung Kulon gelar Jum’at Bersih di Mesjid Besar Al Fithroh Tasyakur Bi Ni’mah dan Pelepasan Siswa Kelas XII SMK Kesehatan Bhakti Kencana Cimahi Sengketa Mukab Kadin Kabupaten Bandung Masuki Babak Persidangan di PN Bandung Kajati Jabar Lakukan Kunjungan Kerja ke Kejaksaan Negeri Kabupaten

Organisasi

Menyulam Asa di Muara Komam, Transmigrasi Sebagai Koridor Ekonomi Baru Indonesia

badge-check

Menyulam Asa di Muara Komam, Transmigrasi Sebagai Koridor Ekonomi Baru Indonesia Perbesar

SAMBAS MEDIA, KALIMANTAN TIMUR – Suasana di Desa Sekuan Makmur, Kecamatan Muara Komam, pagi itu berbeda dari biasanya. Sejumlah mahasiswa dengan rompi berlogo Ekspedisi Patriot tampak sibuk berdialog dengan petani dan peternak setempat. Sebagian mengamati lahan, mencatat jenis tanaman, dan memotret kondisi kandang sapi. Inilah potret dari sebuah program besar yang digagas Kementerian Transmigrasi bersama tujuh perguruan tinggi negeri ternama: Universitas Indonesia, IPB, ITB, UGM, Undip, Unpad, dan ITS.

Muara Komam menjadi salah satu dari 154 titik ekspedisi yang tersebar dari Aceh hingga Papua. Kehadiran mereka bukan sekadar kunjungan akademis, melainkan upaya serius untuk membaca denyut kehidupan masyarakat transmigrasi dan menata ulang strategi pengembangan kawasan. Program ini mengusung slogan: “Patriot Berkarya, Bangsa Berjaya” sebuah pesan bahwa transmigrasi tak boleh dipandang sebagai program lama yang usang, melainkan sebagai koridor ekonomi baru Indonesia.

Koordinasi bersama Kapolres Paser AKBP. H. Novy Adi Wibowo, SIK., M.H.

Sejak awal dibuka, Muara Komam dikenal sebagai wilayah transmigrasi dengan basis peternakan sapi. Warga mendapat lahan dan hewan ternak untuk dikelola. Namun seiring waktu, pola usaha masyarakat berkembang. Dari ternak sapi, warga beralih pada perkebunan karet, lalu sawit, bahkan mencoba hortikultura seperti terong, tomat, jagung, dan kacang tanah.

Sayangnya, perjalanan tidak selalu mulus. Program bantuan bawang merah pernah gagal akibat bibit yang salah. Banyak pula masalah tanah lahan yang hingga kini masih berstatus HPL, sehingga warga sulit mendapat sertifikat. Dari 200 pengajuan PTSL, hanya 30 yang tembus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

APAK Soroti Kinerja Inspektorat, Minta Pengawasan Daerah Tidak Sekadar Formalitas

15 Juni 2026 - 19:00 WIB

LAKI-KBB Dukung DPRD Jabar Bentuk Pansus, BATALKAN hasil PCMB, Usut Dugaan Korupsi di Disdik Jabar

13 Juni 2026 - 13:00 WIB

FKSS Jawa Barat Kritik Keras PCMB dalam Sistem SPMB 2026/2027

12 Juni 2026 - 19:09 WIB

Audiensi dan Aksi Aktivis serta Pemerhati Pendidikan Jawa Barat terkait Karut Marut SPMB 2026/2027

11 Juni 2026 - 12:00 WIB

PERDIBROFI Jawa Barat Gelar FOKUS 4, Perkuat Kompetensi Guru Broadcasting dan Perfilman

7 Juni 2026 - 16:20 WIB

Trending di Organisasi