Senada dengan itu, Kepala Desa Sekuan Makmur, M. Nur Khozin, menegaskan bahwa masalah utama warganya bukan hanya produksi, tapi juga kepastian lahan.
“Sampai sekarang masih banyak tanah berstatus HPL, belum bisa disertifikatkan. Ini membatasi warga untuk mengembangkan usaha. Kami berharap temuan tim Ekspedisi Patriot bisa sampai ke kementerian, supaya ada solusi nyata,” jelasnya.
Catatan Lapangan
Forum diskusi yang digelar tim di rumah warga Sekuan Makmur menghasilkan sejumlah poin penting. Awalnya, program transmigrasi fokus pada ternak sapi brahman. Namun, seiring waktu, sapi-sapi itu berganti menjadi sapi bali, dan bantuan peternakan lain seperti lele, bebek, ayam, serta kambing mulai diperkenalkan lewat Dana Desa.
Sayangnya, banyak masalah yang mengemuka. Dari 72 ekor sapi bantuan awal, sebagian besar mati hanya dalam hitungan bulan. Program yang ada lebih berupa pembagian, belum sampai pada tahap penggemukan atau manajemen modern.
Dari sektor pertanian, warga masih trauma dengan kegagalan bawang merah akibat bibit yang keliru. “Awalnya masa tanam tiga bulan, tapi karena salah bibit jadi enam bulan. Akhirnya petani enggan menanam lagi,” ucap tokoh masyarakat, Syamsi dalam forum.



























