Meski begitu, warga punya usulan prioritas: pengembangan ternak sapi, bibit jagung pakan, serta buah-buahan lokal seperti elai. Aspirasi itu dibungkus dengan satu pesan tegas:
“Tolong kawal usulan ini, jangan hanya sekadar catat lalu hilang. Kami butuh program yang tepat sasaran,” tutur kepala desa Nur Khozin.
Selain itu, masalah pertanahan menjadi sorotan utama. Dari 200 warga yang mengusulkan sertifikasi lewat PTSL, hanya 30 yang berhasil. Selebihnya masih terjerat status HPL. Bahkan fasilitas umum seperti sekolah, masjid, dan tanah kas desa pun belum memiliki sertifikat resmi.
Aspirasi Asa
Notulensi kegiatan mencatat pula adanya gagasan pemberian beasiswa S2 dan S3 bagi anak-anak transmigrasi yang berprestasi. Ide ini muncul dari keinginan agar generasi muda punya bekal lebih kuat dalam mengembangkan desanya sendiri.
“Dengan menggabungkan riset, aspirasi warga, serta pengalaman nyata di lapangan, Ekspedisi Patriot di Sekuan Makmur menunjukkan bahwa pembangunan bukan hanya soal angka dan data, tetapi juga menyangkut suara anak-anak desa, keresahan petani, dan mimpi pemimpin lokal,” pungkas Buchari.**
(Red)



























